Semangat Asian Games, Gairahkan Kembali Danau Toba

PARAPAT, Indotimes.co.id – Semangat Asian Games XVIII/2018 yang dikobarkan deng an kehadiran kirab obor pesta akbar olahraga se-Asia di Kota Parapat Kabupaten Simalungun D
Sumatera Utara menjadikan semangat tetsendiri bagi masyarakat kota yang ada di tepian Danau Toba tersebut.

Musibah tenggelamnya Kapal Sinar Bangun yang baru-baru ini dekat wilayah itu berdampak pada munurunnya kehadiran wisatawsn ading mapun lokal ke salah satu destinasi wisata andalan di Tanah Air itu.

Kini kehadiran Api Asian Games di Danau Toba, khususnya masyarakat yang ada berada di sekitar danau terbesar di dunia itu, memberikan semangat baru dalam menggairahkan kehidupan maupun pariwisata di wilayah ini.

Ribuan pelajar dan masyarakat sudah nemadati area Pantai Bebas Parapat Simalungun sejak pagi hari untuk menyaksikan petistiwa besar di daerah mereka.

Suasana semakin meriah dengan puluhan wisata Danau Toba juga turut meramaikan suasana, termasuk ikut mengiringi saat artis
Olivia Zalianty membawa obor diatas perahu wisata berkeiling Danau Toba, sebelum.membawa kembali obor api abadi itu dibawa berlari kembali menuju Kota Parapat sebelum upacara resmi penyambutan yamg berlokasi di Plaza Pantai Bebas Kota Parapat.

Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpau berlari membawa obor sebelum diserahkan kepada Deputi Bidang Ekonomi BIN
Irjen Pol Alberto P Simanjuntak , untuk selanjutnya diserahkan kepada Bupati Simalungun yang menyalakan api obor ke cauldron di atas panggung acara.

Bupati Simalungun JK Saragih dalam sambutannya mengatakan
rasa bangganya Simalungun menjadi salah satu wilayah yang disinggahi kirab obor Asian Games 2018.

JK Saragih berharap rangkaian kegiatan kirab ini dapat menjadi euphoria semangat kebanggaan bagi Indonesia, sebagai tuan rumah Asian Games.

Begitu juga semangat masyarakat di Simalungun dalam membangun daerahnya.

Rumah Pengasingan Bung Karno dipilih sebagai tempat bermalam api abadi Asian Games, sebab tempat itu memiliki nilai bersejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia, ketika sang proklamator diasingkan di rumah itu bersama tokoh kemerdekaan lainnya Sjahrir dan Agus Salim pada 1948 selama lebih kurang dua bulan.