JAKARTA, Indotimes.co.id – Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati mengatakan, sektor juga merupakan kegiatan yang banyak digeluti koperasi di berbagai negara, dan berkembang dengan baik dan maju.

“Di Indonesia, berdasarkan data BPS, disebutkan bahwa koperasi telah menyediakan pembelian rumah bagi 3,4 persen penduduk yang mendapatkan kepemilikan rumah,” kata Yuana, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) bertema Pengembangan Pembiayaan Oleh Koperasi, di Jakarta, Rabu (12/9).

Akhir-akhir ini, lanjut Yuana, banyak kegiatan Koperasi dan jasa pembiayaan syariah terjun dalam penyediaan pembiayaan atau untuk keperluan bagi para anggotanya, meski pangsa pembiayaannya masih kecil.

“Di samping itu, dalam dua tahun terakhir ini kepedulian Gerakan Koperasi bagi penyediaan hunian layak bagi koperasi dan masyarakat tidak mampu semakin marak,” ujar Yuana.

Baca juga :  Kemenkop Fasilitasi 30 UKM Ikuti MIHAS

Yuana mencontohkan Koperasi BMI yang telah melampaui jumlah rumah ratusan untuk program rumah layak huni gratis yang disediakan bagi warga tidak mampu.

“Kegiatan FGD ini dimaksudkan untuk mengadakan inventarisasi pengalaman koperasi dalam menyediakan pembiayaan bagi anggotanya,” kata Yuana.

Selain itu, kata Yuana, FGD ini juga bertujuan untuk menemukan cara peningkatan ketertarikan koperasi dalam pembiayaan dengan menemukan cara terbaik ke dalam kegiatan bisnis pembiayaan oleh koperasi yang ada.

“Juga untuk mengenali kebijakan pemerintah, perbankan, dan lembaga keuangan lain untuk mendukung pengembangan pembiayaan oleh koperasi,” kata Yuana lagi.

Sementara itu, salah satu peserta FGD dari Tabungan Negara (BTN) Budi Permana menyebutkan bahwa pihaknya mendukung pola pembiayaan melalui koperasi dari dua sisi. Yaitu, dari sisi supply dan juga demand. “Pengalaman di daerah, sudah banyak koperasi sebagai pengembang juga penjual rumah ya lancar-lancar saja,” ujar dia.

Baca juga :  Anugerah Seni DKB Siap Jadi Agenda Tahunan

Hanya saja, Budi mengingatkan koperasi bahwa pembiayaan itu merupakan kredit konsumtif dengan marjin kecil dengan jangka waktu yang panjang. Biasanya akan terkendala masalah missmatch dana. “Solusinya, di kalangan perbankan, melalui program sekuritisasi aset. Langkah ini bisa ditiru oleh kalangan koperasi,” ujar Budi.

Selain itu, lanjut Budi, kalangan koperasi juga harus tahu betul aturan main bila mau bermain di sektor pembiayaan perumahan.

“Pembiayaan itu memakai dana masyarakat. Di koperasi, karena ini program jangka panjang, jangan sampai di tengah jalan banyak yang menarik dananya dalam jumlah besar. Ini yang harus benar-benar diperhatikan,” katanya.