BANDUNG, Indotimes.co.id – Plt Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Rully Nuryanto mengatakan, saat ini packaging dan e-commerce merupakan dua hal penting yang harus dipahami oleh para pelaku usaha. Hal ini berbeda dengan era-era sebelumnya yang cenderung hanya mengutamakan produk.

“Bicara kemasan bukan hanya bicara bungkus tetapi kemasan ini bisa mewakili brand dari produk. Sebagai contoh misalnya udaha di bidang kuliner, kalau dahulu hanya mengandalkan rasa, saat ini hal itu tidak cukup. Usaha rumah makan atau restoran harus memyesuaikan dengan selera kaum milenial. Restoran harus dikemas dengan dekorasi yang kekinian atau yang instagramable dan ditambah jaringan Wifi yang bagus, seperti contohnya jaringan Warung Upnormal itu,” kata Rully saat memberikan sambutan di acara bertajuk Pelatihan Vocational Keterampilan Teknis Bagi SDM KUMKM di Hotel Prime Park, Jl PHH Mustopa, Cikutra, Bandung, Jumat (21/9).

Pelatihan yang diprakarsai Kementerian Koperasi dan UKM, bekerjasama dengan Saung Angklung Udjo ini dimulai Jumat (21/9) dan diikuti oleh peserta pelatihan sebanyak 60 orang wirausahawan muda asal Cimenyan, Bandung dan Padasuka, Bandung.

Selain Plt Deputi Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Rully Nuryanto, ikut hadir dalam kegiatan pelatihan hari pertama Pimpinan Saung Angklung Udjo Taufik Hidayat Udjo, Kabid Bidang UKM Dinas Koperasi dan UKM Pemprov Jabar Ruddy Billah dan tentunya Ketua Panitia Ibu Mas Ayu Nilawati yang juga menjabat sebagai Kabid Pengembangan Peran Organisasi Kemasyarakat pada Asisten Deputi Bidang Peran Serta Masyarakat, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Rully menerangkan, warung upnormal bisa begitu berkembang karena pemiliknya pandai bermain dengan packaging dan pemiliknya mengetahui kaum milenial sekarang menilai tempat nongkrong serta jaringan wifi dan spot-spot foto menjadi hal utama dalam sebuah usaha, rasa makanan tidak lagi menjadi yang utama.

“Pedagang mie kekinian mungkin itu istilahnya. Hasilnya warung atau tempat makan itu, dijadikan tempat kumpul kaum milenial yang akan nongkrong,” ujarnya.

Ini menjadi bukti, kaum milenial sekarang tidak terlalu menomorsatukan rasa tetapi lebih hal-hal lain di luar rasa, seperti suasana yang kekinian dan eye catching-nya suatu produk.

Rully juga mengatakan, selain packaging, e-commerce juga patut diperhatikan seorang pelaku wirausaha. Pengaruh e-commerce juga sangat penting, untuk meningkatkan pemasaran.

“Zaman dulu, wirausaha harus punya lapak, toko atau outlet sebelum usaha, datang ke toko juga sudah harus rapi atau wangi. Wirausahawan sekarang tidak lagi, bangun tidur di kamarnya sudah bisa dagang. Tidak harus punya toko dulu,”  katanya.

Pimpinan Saung Angklung Udjo Taufik Hidayat Udjo mengatakan pelatihan vocational ini luar biasa, pesertanya 60 orang, berasal dari 30 orang wirausaha asal Desa Cimenyan dan 30 orang wirausaha asal Desa Padasuka.

Ide lahirnya pelatihan ini, menurut Taufik juga tidak datang begitu saja, tetapi lewat pertemuan intensif antara dirinya dengan Menteri Koperasi AAGN Puspayoga. Pertemuannya juga tidak hanya berlangsung satu kali, tetapi sampai tiga kali,” jelas Taufik.

“Peristiwa ini luar biasa, dan kami merasa dihormati. Peristiwa itu bukan tiba-tiba, tapi wujud dari sebuah perhatian yang luar biasa dari bapak Menteri. Awalnya beliau mendatangi tempat kami sampai 3 kali, berbicara santai, bukan sebagai seorang pejabat,” kisahnya.

Penjelasan-penjelasan Menteri AAGN Puspayoga, hingga akhirnya muncul pelatihan ini juga sangat santun.

“Beliau menyampaikan kepada saya, pak Taufik inikan sudah bagus. Bisa lebih bagus lagi, kalau kita bersinergi. Coba pikirkan atau berbuat sesuatu untuk bisa kita berprogres, kita bersinergi,” jelasnya.

Kata-kata santun dari pak Menteri AAGN Puspayoga, menurut Taufik, selalu akan diingatnya. Hingga akhirnya lahir keinginan untuk memunculkan kegiatan pelatihan ini, mengingat apa yang diinginkan Menteri Koperasi dan UKM juga sejalan dengan keinginan orangtua, perintis Saung Angklung Udjo.