JAKARTA, Indotimes.co.id – Institut Pertanian Bogor (IPB) akan menjadikan koperasi menjadi salah satu kajian akademis untuk mendorong pengembangan koperasi di Tanah Air. IPB memandang koperasi berperan stratgeis sebagai penggerak perekonomian masyarakat dalam mengatasi kemiskinan dan kesejahteraan.

Untuk itu, IPB segera mewujudkan sebuah lembaga diberi nama Pusat Kajian Koperasi dan Sosial Bisnis sehingga diharapkan turut serta dalam memberikan kajian perkoperasian, ide dan masukan terhadap regulasi pemerintah serta best practice perkoperasian. Pusat kajian akan lebih fokus melakukan kajian koperasi sektor riil.

“IPB ingin melakukan tindak nyata bahwa koperasi tidak hanya wacana tetapi kekuatan dalam sistem ekonomi di Indonesia. Untuk efektif, kami di Fakultas Ekonomi dan Manajemen memformulasikan satu pusat yang khusus membidangi dan mendalami, mengkaji dan mengkomunikasikan tentang koperasi dan sosial bisnis,” kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), IPB Nunung Nuryartono usai bertemu dengan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Sembiring, Rabu (7/11).

Baca juga :  Menkop Resmikan Aplikasi Kebangsaan dan Ekonomi Pancasila

Nunung mengatakan, roh ekonomi Pancasila sesungguhnya adalah koperasi sebagaimana yang dicetuskan Mohammad Hatta. Para pendiri bangsa juga sudah menyatakan koperasi secara eksplisit dalam konstitusi.

Sayangnya dalam perjalanan koperasi tidak menjadi agenda besar dalam sistem perekonomian nasional meski di tengah masyarakat semangat koperasi masih ada.

Ia menegaskan, jika koperasi menjadi gerakan besar harus ada terobosan. Karena itu, diharapkan lebih banyak kampus bergerak, berpikir dan mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama menjadikan koperasi sebagai pendorong kegiatan ekonomi.

“Kami telah melakukan seminar yang topiknya bagaimana melakukan pengembangan sektor riil di Indonesia. Karena itu potensi yang luar biasa. Jangan masyarakat hanya tahu koperasi ,” kata Nunung.

Yeti Lis Purnamadewi, Wakil Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi, Pasca Sarjana IPB mengatakan IPB sudah lama memberi perhatian pada koperasi dengan mengadakan mata kuliah koperasi di FEM.

Baca juga :  Anak Usaha Kospin Jasa Pekalongan Melantai di BEI

Ia menegaskan, koperasi merupakan usaha yang sangat strategis untuk Indonesia. Terlebih koperasi tidak bisa lepas dari kecil dan menengah. Usaha mikro dan kecil adalah kelompok usaha paling rentan dan sulit bersaing menghadapi oligopoli dan monopoli sehingga perlu wadah koperasi.

“Kalau koperasi mampu berkembang mestinya mampu mengembangan usaha mikro dan kecil. Untuk itu kami lebih concern terhadap koperasi sector riil, ” katanya.

Harapannya kalau koperasi sekor riil berkembang berarti meningkatkan kemampuan para produsen.

Berkembangnya koperasi sektor riil juga akan menumbuhkan koperasi simpan pinjam karena akan membiayai para produsen koperasi.

Ia mengatakan, membangun koperasi sektor riil berarti meningkatkan kontribusi PDB karena lebih banyak mendorong produksi barang dan jasa khususnya sektor pertanian

“Strategisnya koperasi mendorong peningkatan dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Karena 98 persen usaha itu ada di usaha mikro,” kata Yeti.

Baca juga :  Kemenkop dan UKM Dituntut Miliki Database yang Akurat dan Faktual  

Pengamat perkoperasian Suroto mengatakan, gebrakan yang dilakukan oleh IPB merupakan fenomena baru kampus yang mulai antusias tentang koperasi. Menurutnya ada perguruan tinggi lain juga yang rencananya akan membuka pusat kajian yang sama.

Ditegaskannya, pentingnya koperasi mulai dirasakan di berbagai negara. Di Hongkong, misalnya, Suroto mengatakan mulai berkembang cooperative platform berbasis star up.

Selain itu, ia merujuk pendapat ekonom dari Amerika Serikat Joseph Stiglitz yang mengakui konsep ekonomi trickle efeck down ternyata gagal sehingga harus belajar banyak dari koperasi. “The true sharing economy adalah koperasi. Itu sudah diakui,” katanya.