YOGYAKARTA, Indotimes.co.id –  Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM meningkatkan peran gerakan koperasi dan UKM untuk mengembangkan hilirisasi industri kelapa. Hal itu dilakukan dengan pola kemitraan antara koperasi dan UKM dengan industri pengolahan kelapa yang sudah mapan.

Pernyataan itu dikemukakan Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran, Kemenkop dan UKM Victoria Simanungkalit dalam kegiatan Temu Mitra Koperasi Kelapa, yang melibatkan LPDB-KUMKM, PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), PT. Krambil Idjo dan gerakan koperasi dan UKM dari sejumlah daerah di Yogyakarta, Kamis (4/4).

Victoria Simanungkalit mengatakan, ajang Temu Mitra Koperasi Kelapa ini merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing UKM dan Koperasi, agar mampu bersaing. Seperti diketahui kelapa merupakan komoditas yang sangat bernilai ekonomis, karena mampu menghasilkan berbagai produk turunan.

“Pertemuan ini juga dimaksudkan untuk konsolidasi, terutama untuk koperasi kelapa, sekaligus mengubah mindset petani. Ya, karena mereka tidak hanya menjadi petani, tapi juga bisa terjun ke industri pengolahan kelapa menjadi minyak dan VCO,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM), Braman Setyo menyatakan, pihaknya siap mendukung pengembangan hilirisasi kelapa oleh koperasi dan UKM.

“Saya sangat senang dengan pertemuan hari ini. Ini merupakan sektor produktif, yang harus menyerap kucuran dana lebih tinggi dari sektor lainnya, karena sektor produktif mempunyai nilai tambah yang berkali lipat.
Kelapa, banyak sekali produk turunannya yang mampu menghasilkan nilai tambah,” lanjut Braman.

Ia menyatakan, tahun ini LPDB  telah menyiapkan dana sebesar Rp 1,5 triliun untuk dikucurkan kepada para pelaku usaha. Maka dari itu, untuk mendorong hilirisasi olahan kelapa, LPDB siap memberikan kucuran kredit kepada pengusaha sepanjang syarat dan ketentuan terpenuhi.

“Jumlah anggaran LPDB tahun ini mencapai Rp 1,5 triliun. Kalau terkendala untuk investasi mesin, akan kita bicarakan secara langsung, LPDB siap mengucurkan kredit kepada yang bersangkutan,” kata Braman.

Pada saat yang sama, Direktur Utama PT. Krambil Idjo, Syaukani, menyatakan apresiasinya atas dukungan pemerintah untuk hilirisasi komoditas kelapa, namun ia juga mengatakan perlu adanya kepastian raw material agar stabilitas produksi dapat berjalan dengan baik.

Menurutnya, selain dukungan hilirisasi, diperlukan juga dukungan dari pemerintah untuk penataan perkebunan kelapa secara nasional.

“Saat ini, kebanyakan penghasil kelapa adalah kebun rakyat. Untuk diserap ke industri pengolahan, persediaan kurang. Karena itu, perlu juga dukungan kebijakan dari pemerintah untuk menata perkebunan kelapa. Kenapa sawit maju, karena ia ditata perkebunannya oleh kebijakan pemerintah. Harapannya, kelapa juga diperlakukan begitu. Selain kaya dengan produk turunan, secara ekologi, kelapa juga ramah lingkungan,” kata Syaukani.

PT. Krambil Idjo berkomitmen membangun kemitraan dengan koperasi dan UKM dalam pengembangan hilirisasi kelapa. Di beberapa daerah PT. Krambil Idjo telah menjalin kemitraan dengan koperasi dan UKM sebagai off taker sekaligus pendampingan pengolahan kelapa dengan teknologi tepat guna.