BANDUNG, Indotimes.co.id – Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan menegaskan, pihaknya akan terus menggelorakan sosialisasi terkait pembiayaan bagi wirausaha pemula di seluruh Indonesia.

“Kita banyak memiliki program bagus khususnya terkait skema pembiayaan bagi UMKM dan wirausaha pemula. Sayangnya, program strategis tersebut belum tersosialisasi dengan baik ke publik”, ucap Prof Rully saat membuka acara Focus Group Discussion (FGD) bertema “Wirausaha Pemula vs Pembiayaan”, hasil kerjasama Kemenkop dan UKM dengan Harian Pikiran Rakyat, di Kota Bandung, Jumat (24/5).

Untuk itu, Prof Rully mengajak seluruh komponen termasuk Gerakan Koperasi untuk intens mensosialisasikan adanya skim pembiayaan bagi UMKM dan wirausaha pemula. “Tujuannya, agar pelaku UMKM dan wirausaha pemula dapat mengetahui sumber-sumber pembiayaan bagi pengembangan usahanya,” kata Prof Rully.

Dengan derasnya sosialisasi pembiayaan, Prof Rully meyakini pelaku KUMKM menjadi kuat untuk bersaing. “Ini juga menjadi bagian dari penguatan ekonomi rakyat. Tak salah juga bila Jabar menjadi Pilot Project karena Jabar merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” ujar Prof Rully.

Deputi Bidang Pembiayaan Kemenkop dan UKM Yuana Sutyowati menambahkan, pemberdayaan UMKM tidak bisa dilakukan secara One Man Show, dimana ada 23 kementerian dan lembaga di bawah koordinasi Menko Perekonomian yang melakukan program tersebut. “Kita juga sudah bersinergi dengan kalangan akademisi, dimana sudah ada MoU dengan 59 perguruan tinggi di Indonesia,” kata Yuana.

Yuana menyebutkan, baru sekitar 19,94 persen UMKM di Indonesia yang mampu mengakses pembiayaan dari sektor perbankan. Artinya, masih banyak UMKM terlebih lagi wirausaha pemula (mikro) yang belum menikmati akses perbankan. “Ada banyak lembaga keuangan alternatif untuk membiayai UMKM dan wirausaha pemula, tidak hanya perbankan. Salah satunya adalah koperasi,” ujar Yuana.

Apalagi, lanjut Yuana, kehadiran koperasi memang untuk mendukung usaha dari anggotanya (UMKM). Saat ini, di Indonesia ada sekitar 20.852 unit Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang bisa dijadikan sandaran permodalan bagi UMKM dan wirausaha pemula.

“Di Kemenkop dan UKM juga ada program skim khusus bagi startup capital. Pasalnya, kami menyadari, aspek modal menjadi bagian penting untuk peningkatan usaha,” kata Yuana seraya menyatakan, periode 2011-2018 sudah ada sebanyak 20 ribu lebih wirausaha pemula yang mendapat program WP dari Kemenkop dan UKM.

Untuk tahun 2019, kata Yuana, pihaknya mentargetkan sebanyak 2500 orang wirausaha pemula dengan total dana sebesar Rp30 miliar. “Masing-masing wirausaha pemula bisa mendapat bantuan permodalan hingga maksimal Rp12 juta,” ujar Yuana.

Yuana juga mendorong pelaku UMKM untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga sangat murah, yakni 7 persen per tahun. “Tahun 2019 ini kita menyiapkan dana subsidi bunga KUR sebesar Rp13,6 triliun. Saat ini, sudah ada tiga koperasi sebagai penyalur KUR, yaitu Kospin Jasa, Kopdit Obor Mas, dan KSP Guna Prima Dana,” jelas Yuana.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Komersial dan UMKM Bank BJB Benny Ruswandi meminta generasi muda untuk jangan takut melangkah menjadi seorang wirausaha. “Tugas Bank BJB bikin mereka para wirausaha pemula untuk berani melangkah. Kita memiliki program pembiayaan yang sifatnya pemberdayaan ekonomi masyarakat terpadu. Sudah banyak wirausaha pemula yang kita bina,” kata Benny.

Meski begitu, Benny mengakui ada beberapa tantangan yang membelit para wirausaha pemula. Diantaranya, unbankable, kesulitan pemasaran, hingga masih rendahnya pemahaman bisnis. “Kita bina mereka hingga usaha mereka fisible, dan juga bankable,” ujar Benny

Sementara Kepala Area Bandung Bank BRI Ismanto mengatakan, animo masyarakat di Bandung untuk  mengakses KUR terbilang tinggi. Tahun ini, KUR ditargetkan sebesar Rp9,7 triliun, dan hingga Mei 2019 sudah tersalurkan sebesar Rp3,6 triliun.

“Kita ada sekitar 608 BRI Unit yang bisa melayani UMKM mengakses KUR di Bandung. Selain itu, KUR juga diharapkan melahirkan usaha-usaha mikro baru,” kata Ismanto.

Ismanto juga mengakui, para wirausaha pemula masih banyak yang ragu berhubungan dengan bank.

“Ini yang harus didorong agar mereka berani mengakses dana perbankan. Apalagi, syarat mendapatkan KUR terbilang mudah, yaitu usaha sudah berjalan selama enam bulan dengan ada surat keterangan ijin usaha. Diharapkan, praktik rentenir di masyarakat bisa hilang,” ujar Ismanto.

Sedangkan Ketua KNPI Jawa Barat Rio F Wilantara berharap pembiayaan dari perbankan tidak melulu berbasis valuasi atau bukan sekadar berapa jumlah agunan yang dimiliki. Melainkan lebih kepada fisibilitas usaha yang dimiliki wirausaha pemula.

“Saya juga melihat bahwa ke depan koperasi bisa dijadikan sebagai alternatif solusi pembiayaan bagi wirausaha pemula. Oleh karena itu, rebranding koperasi harus terus digaungkan, khususnya di kalangan generasi muda,” katanya.