Sertifikat HAKI Dongkrak Bisnis Songket Hingga 30 Persen

JAKARTA, Indotimes.co.id – Hak dan tidak sekadar lembaran yang cuma jadi pajangan. Bagi pelaku tenun songket, tersebut menjadi “amunisi” untuk meningkatkan penjualan.

Itu dialami pasangan suami isteri I Ketut Widiadnyana dan Luh Wayan Sriadi, dengan bendera usaha Putri Mas Balinese Handmade di Jembrana, Bali. Pengusaha tenun berhasil mendapatkan sertifikat Hak dan 13 yang difasilitasi Koperasi dan UKM.

Tenun putri mas merupakan motif legendaris yang terkait erat dengan kerajaan Jembrana, warisan nenek moyang yang sudah turun temurun menjadi kain khas Bali. Variasi motif sangat banyak membuat sulit bersaing. Hal ini mendorongnya untuk mendaftarkan motif-motif ciptaannya di Ditjen Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

“Sejak mendapat sertifikat HAKI, kami percaya diri bahwa motif kain yang kami ciptakan adalah orisinal dan otentik. Kami juga percaya diri, produk kami tidak ada yang menjiplak dan mudah dikenali,” kata Ketut.

Baca juga :  Caleg PDIP Nanang Kurniawan Dorong Pemerataan Ekonomi Melalui Pasar Rakyat

Pada setiap pameran mereka menjadikan tersebut sebagai cara untuk mengedukasi pelanggannya. Sertifikat itu bahkan mereka bawa ke pameran-pameran untuk menunjukkan orisinal setiap lembaran kain yang dihasilkan.

“Setiap produk memiliki nomor seri untuk menandakan orisinalitasnya,” kata Ketut.

Menurutnya, berkat HAKI, mereka mendapat kepercayaan besar untuk mengikuti pameran di Korea, Filipina, Moskow, dan pameran saat pertemuan di Bali.

Kepercayaan pelanggan itu membuat permintaan tenun produksi Putri Mas Balinese Handmade meningkat. Harga pun menjadi tidak masalah karena jaminan kualitas yang baik. “Kami semakin mudah menjual apalagi kepada pelanggan turis asing. Total penjualan naik 30 – 40 persen,” kata Ketut.

Ia mengatakan, sangat terbantu dengan fasilitas dari Koperasi dan UKM. Sebelumnya, karena minimnya informasi ia tidak peduli dengan HAKI. Ia baru menyadari setiap motif ciptaannya perlu didaftar sehingga tidak ada yang bisa menjiplak.

Baca juga :  RI Jajaki Kerja Sama Innobiz Korea  

Betapa bermanfaatnya sertifikat HAKI, ia rasakan ketika menemukan motif yang mereka buat ditiru oleh pengrajin lain dengan menggunakan bahan baku pewarna kimia.

“Bahan baku yang kami gunakan adalah pewarna alam sedangkan mereka pakai pewarna kimia. Itu kami tegur, jika menemukan tiruan motif yang sama,” katanya.

Ketut tidak pernah berhenti untuk berinovasi. Ia membuat tanpa sambungan yang akan membuat tenun songket semakin indah.

Ia berharap para pelaku mulai peduli dan sadar HAKI. Menurutnya, sangat penting menghargai karya cipta agar memiliki nilai tinggi.