Gagal Bayar, USP Koperasi Hanson Mitra Mandiri Ditutup

JAKARTA, Indotimes.co.id – Kasus gagal bayar Hanson Mitra Mandiri (HMM) yang diketuai Benny Tjokro menambah deretan koperasi yang bermasalah di Tanah Air.

Hal ini menyusul aduan anggota HMM ke Kementerian Koperasi dan Kecil Menengah ( dan UKM) karena koperasi itu gagal bayar terhadap simpanan berjangka anggotanya.

“Kami dapat laporan dari tiga orang yang menyimpan uangnya di Hanson Mitra Mandiri. Dua orang yang mengadu anggota koperasi, namun satu orang bukan. Mereka menyimpan simpanan berjangka di Koperasi itu. Ada yang Rp1,6 miliar dan Rp800 juta serta Rp 600 juta,” ujar Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno di dan UKM, Jakarta, Jumat (24/1).

Menurut dia, HMM merupakan koperasi konsumen, namun juga membuka unit simpan pinjam (USP) tanpa mengantongi izin.

Baca juga :  Puspayoga Tegaskan Koperasi Tidak Boleh Dibawa ke Politik Praktis

Pengurus dan pengawas yang beralamat di Gedung Mayapada itu telah dipanggil Deputi Pengawasan UKM pada 14 Januari 2020.

“Setelah kita panggil, ini ternyata konsumen. Namun juga membuka unit simpan pinjam. Catatan kami ada 755 lebih anggota, dengan neraca Rp400 mliar lebih. Mereka baru punya izin simpan pinjam, pada 22 Oktober 2019. Itupun kalau tidak kita desak, mereka tidak akan urus izin,” ujar Suparno.

Adapun dari HMM yang hadir memenuhi panggilan dan UKM adalah Rina Mariatna (bendahara) Wiwik Sukarno (pengawas), Jumiah (pengawas), Novita Sari (admin finance) dan Antonius Riyanto (admin accounting). Merekapun menyampaikan sejumlah.

HMM menghimpun dana berupa simpanan berjangka. Simpanan berjangka itu digunakan untuk investasi property dan pinjaman kepada PT Hanson Internasional untuk digunakan pembebasan lahan,” ujar Suparno.

Baca juga :  Peringatan Hari UMKM Internasional Soroti Aspek Kemanusiaan  

Diketahui, Bunga Simpanan Berjangka (SB) yang didapatkan anggota untuk SB 3 bulan sebesar 10 persen. Kemudian untuk SB 6 bulan sebesar 11 persen dan SB 12 bulan sebesar 12 persen. Penghimpumam dana berupa SB dimulai Maret 2018 dan terjadi penarikan besar-besaran pada awal November 2019.

HMM sudah menawarkan settlement aset dan restrukturisasi utang kepada anggota. Namun anggota menginginkan uang anggota segera kembali dalam bentuk cash,”ujar Suparno.

Dia menambahkan, dalam pertemuan dengan pengurus dan pengawas HMM, mereka menyatakan kesanggupannya untuk mengembalikan uang simpanan anggota secara bertahap.

“Serta menutup sementara kegiatan usaha /investasi sampai kasus ini selesai,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Suparno meminta masyarakat jangan mudah tergiur tawaran investasi dengan iming-iming bunga tinggi.

“Kenali dulu kalau ingin menjadi anggota. Jangan sampai masyarakat dirugikan,” ujarnya.

Baca juga :  LPDB Buka Akses Pembiayaan Bagi Peternak Sapi di Kupang

Dia menambahkan, masyarakat yang bergabung di juga harus mengetahui kapan koperasi berdiri, pengelolanya serta hasil akuntan publik. “Di Koperasi HMM ini, pengawas tidak dijalankan peranan sebagaimana mestinya. Sampai sekarang RAT belum pernah dijalankan,” katanya.