JAKARTA, Indotimes.co.id – Memperingati 75 tahun kemerdekaan RI dan 50 tahun BKKBN bekerja sama dengan Komunitas Homeros dan beberapa mitra kerja terkait menyelenggarakan webinar, dengan mengangkat tema “KELUARGAKU, INDONESIAKU, Menuju Era Baru Keluarga Indonesia Maju di Tahun Emas 2045”.

Webinar yang melibatkan penggerak program KB sangat populer di masanya hingga kini yaitu Prof. Haryono Suyono. Pada kesempatan yang sama tampil sebagai pembicara selain Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) adalah GKR Mangkubumi; dan Ir. Poppy Sophia Bakur.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan, pihaknya menyadari penuh setelah sekian lama program KB dari tahun 70an dikawal oleh Prof Haryono Suyono, di mana generasi saat ini menikmati adanya window opportunity, celah untuk mendapatkan bonus demografi.

“Inilah yang harus kita camkan betul bahwa pepatah mengatakan jas merah jangan lupakan sejarah karena sekarang ini kita masuk di window opportunity karena pertumbuhan yang panjang yang dilakukan oleh program BKKBN yang dilakukan sejak dahulu, dan dikawal oleh Prof Haryono Suyono,” tegas Hasto.

Menurutnya, celah bonus demografi itu tidak serta merta. Bonus demografi bisa menjadi bonus kesejahteraan tetapi mempunyai syarat yang luar biasa banyak. Genersi muda harus mengawal sejak saat ini. Untuk itu, harus dapat membangun keluarga yang berkualitas, karena kualitas keluarga dapat mencetak generasi yang berkualitas prasyarat utama untuk memetik bonus demografi menjadi bonus kesejahteraan.

BKKBN, kata Hasto, ingin mendapatkan kekuatan dari luar untuk membantu supaya bisa mengubah kekuatan-kekuatan dari pengetahuan dan organisasi yang ada di luar berperan besar untuk bisa bahu membahu mendorong program BKKBN menjadi lebih baik.

“Kami meminta saran dari para sesepuh dan senior untuk mengawal program ini agar generasi kita yang muda-muda ini tidak salah arah. Nilai-nilai luhur perlu ditanamkan di dalam keluarga,” ujar Hasto.

Sementara itu, Haryono Suyono menjelaskan, bahwa kaum anak muda yang merupakan bonus demografi tidak bisa dilepaskan dari apa yang dinamakan sesepuh sesepuhnya, karena bonus demografi tidak saja terjadi pada meledaknya anak muda tetapi juga meledaknya para generasi tua.

“Jejak-jejak sejak tahun 50an dan 60an itu adalah luar biasa. Kita mengharapkan pada era Pak Jokowi nilai gotong royong tetap ada. Dahulu gerakan-gerakan dilakukan bersama-sama. Mahasiswa berusaha bersatu melakukan proses pemberdayaan keluarga di masyarakat. BKKBN tetap membantu pemerintah daerah baik pada tingkat provinsi, kabupaten, kota sampai di tingkat kecamatan dan desa bersatu melakukan program-program. Secara estafet dilakukan kepada masyarakat untuk bersatu membentuk kelompok-kelompok kecil yang dikenal dengan panca wisma, dasa wisma dan sebagainya untuk menjalankan program-program BKKBN. Untuk kelompok intelektual diberikan peningkatan-peningkatan keluarga-keluarga yang sangat berkualitas”, tegas  Haryono Suyono.