JAKARTA, Indotimes.co.id – Dalam usia 74 tahun, Aburizal Bakrie masih tampak lincah dan atletis. Wajahnya cerah dengan senyum ceria menghiasi bibirnya ketika menerima kedatangan kedatangan Ketua Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (Siwo PWI) Pusat Gungde Ariwangsa di Gedung Bakrie Tower, Rasuna Said, Kuningan Jakarta, Selasa, (1/12).

Ketika ditanya kuncinya untuk tetap sehat, apalagi di saat pandemi virus corona (Covid-19), Aburizal yang akrab disapa Ical, dengan tegas menyatakan selalu berolahraga. Dijelaskannya, dirinya tidak mengenal hari tampa olahraga. Hari Senin dan Kamis, dia berenang. Selasa sampai Sabtu bermain tenis. Minggu dia melakukan jogging.

“Tiada hari tanpa olahraga karena saya tahu, selain untuk menjaga kebugaran tubuh, olahraga juga bisa mengasah jiwa untuk bisa cepat dalam mengambil keputusan. Bahkan saat Covid-19 ini olahraga amat penting. Kita bisa melawan Covid-19 dengan berolahraga,” kata Ical yang juga menekuni olahraga karate, judo dan pencak silat.

Pengusaha sukses itu mengajak masyarakat untuk tetap menyempatkan diri berolahraga di saat pandemi virus corona (Covid-19) yang masih memapar Indonesia dan dunia. Dia menyebutkan, upaya paling efektif untuk mencegah penularan covid-19 ini adalah berolahraga. Tentunya pula dengan tetap diimbangi dengan taat pada protokol kesehatan.

Penghargaan Siwo PWI

Dalam bagian lain, Ketua Siwo PWI Pusat Gungde Ariwangsa mengatakan, kedatangannya bertemu Ical untuk menyampaikan undangan menghadiri acara Golden Award Malam Anugerah Siwo PWI 2020. Dalam perhelatan yang akan dilaksanakan di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (16/12/2020) itu, Ical akan menerima penghargaan Lifetime Achievement. Ical merupakan tokoh yang pengabdiannya terhadap dunia olahraga nasional sangat besar dan tak perlu diragukan lagi.

Menurut Ariwangsa, Siwo PWI Pusat menilai sosok Ical tak bisa dilepaskan dari denyut nadi pembinaan olahraga nasional dalam kurun waktu hampir 40 tahun lamanya. Ical selain dikenal sebagai pencinta olahraga juga pelaku dan pembina beberapa cabang olahraga. Dengan mengusung nama Pelita Jaya, Ical membina berbagai cabang olahraga seperti sepakbola, bulutangkis, tenis, basket, voli, renang, dan berkuda. Bahkan sampai menggelar Pekan Olahraga Pelita Jaya.

Melalui perkumpulan Pelita Jaya, cabor-cabor ini dibina sampai melahirkan atlet-atlet besar. Di bulutangksi misalnya siapa yang tak kenal Icuk Sugiarto, juara dunia 1983, Rosiana Tendean, Lili Tampi, Indra Wijaya dan Chandra Wijaya, peraih medali emas ganda putra bersama Tony Gunawan di Olimpiade Sydney 2000, juara dunia 1997 bersama Sigit Budiarto.

Ical juga yang mendorong melejitnya prestasi petenis putri Yayuk Basuki hingga menembus 19 besar dunia. Waktu itu Ical menantang Yayuk dengan iming-iming hadiah mobil sport jika berhasil masuk 50 besar dunia.

Menyadari untuk bisa mewujudkan prestasi itu hanya dengan banyak ikut turnamen berkelas di luar negeri, Ical pun tak segan-segan merogoh koceknya dalam-dalam untuk membiayai tour Yayuk Basuki.

Tantangan yang sama juga dilakukan Ical terhadap Icuk Sugiarto dengan iming-iming hadiah mobil sport jika mampu menembus kebuntuan untuk bisa mengalahkan musuh bebuyutan Yang Yang dari Cina. Untuk pertama kalinya dari 10 kali pertemuannya dengan Yang Yang, Icuk berhasil menang di turnamen Hongkong Terbuka 1988.

Ketokohan Ical juga sangat menonjol saat menjadi pengurus inti PB.PBSI pada era Ketua Umum Try Sutrisno. Ical pada periode kedua kepengurusan Try Sutrisno (1989-1993) duduk sebagai Wakil Ketua Umum 1.

Program Garuda Emas (PGE) yang dicanangkan PBSI menuju Olimpiade Barcelona 1992 yang berujung dua medali emas melalui Susy Susanti dan Alan Budikusuma juga tak lepas dari peran Ical. Ical yang mendorong berdirinya Padepokan Bulutangkis Indonesia di Cipayung dan Yayasan Bulutangkis Indonesia. Yayasan Bulutangkis Indonesia meninggalkan warisan dana sekitar Rp.300 miliyar.

Menurun

Ariwangsa menambahkan, peranan Ical untuk dunia olahraga juga sampai ke industri. Melalui perusahaan media yang dia miliki, untuk pertama kali ada televisi olahraga di Indonesia. “Pak Ical adalah penggagas awal televisi olahraga di Indonesia melalui ANTV. Lalu diteruskan oleh Tv One sampai sekarang. Beliau bukan cuma berperan mengembangkan olahraga untuk prestasi, tapi juga industrinya,” tuturnya.

Semangat untuk membangun olahraga Indonesia juga menular kepada anak-anaknya Ical. Kedua putranya, Andindya Bakrie dan Ardi Bakris kini sama-sama menjadi pembina cabang olahraga. Anindya menjadi Ketua Umum PB.PRSI sementara Ardy Bakrie menjadi Ketua Umum Komite Olahraga Beladiri Indonesia (KOBI).

“Saya melihat juga Pak Ical memberi keleluasan kepada anak-anaknya untuk ikut berpartisipasi di dunia olahraga. Ada Pak Anin di PRSI. Lalu ada Pak Ardi di beladiri dengan One Pride,” ujar Ariwangsa.

Menyinggung tentang kondisi olehraga Indonesia saat ini Ical mengatakan, perlunya pembina yang mengutamakan kepentingan atlet dan rela berkorban. Intinya, kata dia, dalam mengurus dan membina olahraga itu kepentingan atlet di atas segala-galanya. Pengurus olahraga jangan mencari hidup atau memanfaatkan organisasi sebagai ladang kehidupan menurut Ical, dipastikan atlet jadi korban.

”Untuk bisa mendapatkan atlet punya daya siang tinggi di level dunia, tentu asupan gizinya harus 4000 kalori per hari. Nah menjadi tugas pengurus mencari dana untuk memenuhi kebutuhan atlet,” pungkasnya.