JAKARTA, Indotimes.co.id – Pecatur putri masa depan Indonesia, Laysa Latifah memberikan kado istimewa menyambut tahun baru 2021 kepada masyarakat Indonesia. Laysa sukses menempati peringkat ketiga Fide Online World Cadet and Youth Rapid Chess Championships 2020 untuk Kelompok Umur (KU) 14 Tahun yang berakhir, Rabu (23/12).

Perjuangan Laysa Latifah untuk menempati posisi tersebut sangat panjang dan berat. Pertama, adik dari pecatur nasional Ummi Fisabilillah ini harus lolos babak kualifikasi dari kawasan benua Asia pada 11-13 Desember 2020.

Kemudian, dia menjadi juara dengan angka sempurna 7 poin dari tujuh babak yang diikuti 33 peserta dari 21 negara Asia termasuk wakil dari China dan India. Yang lebih mengejutkan lagi, Laysa Latifah berhassil mengalahkan pecatur Amerika Serikat, Rochelle Wu yang bergelar Women Internasional Master (WIM).

Dalam pertarungan penentuan peringkat itu, Richelle WU yang memukul bidak d5 hitam milik Laysa Latifah pada langkah ke-18. Wu sudah merasa bakal menang satu bidak. Tapi, setelah Laysa balas memukul dengan Gajah, lalu Wu memukul lagi dengan Menteri, dan Laysa memukul bidak b2 dengan Gajahnya yang mengancam Benteng lawan di c1.

Saat itulah, Wu terpaku sejenak.
Saat itu, Wu baru menyadari akan kehilangan kualitas, karena jika Bentengnya bergerak ke c2 untuk menghindari ancaman, maka Laysa dapat menggerakkan Benteng c8 ke d8 dan Menteri Wu yang berada di petak d5 tidak bisa bergerak, sebab jika bergerak maka Bentengnya yang berada di d1 akan lenyap disusul mat pada baris pertama.

Kejuaraan dunia catur cepat (waktu pikir 15 menit plus 10 detik per Langkah) untuk anak-anak (usia 10-14 tahun ) dan remaja (16-18 tahun) ini diselengarakan oleh tuan rumah Georgia sebagai pengganti kejuaraan offline serupa yang harus dibatalkan tahun ini lantaran pandemi Covid-19 yang masih juga belum dapat diatasi masyarakat dunia.

Pada pertandingan babak final yang menggunakan sistem gugur, terdiri dari 16 pecatur yang berasal dari empat benua (masing-masing benua diwakili empat pemain). Dengan sistem silang masing-masing pecatur bertanding dua kali. Sekali dengan buah putih dan sekali dengan buah hitam. Jika seri ditambah satu babak Armageddon dengan pemegang buah putih mendapat waktu pikir 5 menit sedang hitam 4 menit.

Kalau berakhir remis maka pemegang buah hitam yang melaju ke babak berikutnya.
Sebelumnya, Laysa (rating 1897) mengalahkan WFM Varshini M. Sahithi (2070) dari India di babak perdelapan final dengan skor 1,5-0,5. Kemudian, dia mencukur pecatur Filipina April Joy Claros (1459) tanpa ampun 2-0 di perempat final.

Pada babak semi-final, Laysa yang sempat unggul 1-0 lebih dulu melawan pecatur Belanda, Eline Roebers (2066). Cuma butuh hasil remis pada partai kedua, Laysa yang pegang buah hitam memasang strategi main bertahan. Ini tampaknya strategi yang keliru karena buah caturnya jadi pasif, sementara Eline jadi leluasa menyerang dan menyerang, akhirnya Eline memang yang menang.

Berlanjut ke partai Armageddon, dalam undian buah catur, Laysa mendapat buah hitam. Menyadari hanya butuh remis, Laysa kembali pasang strategi bertahan dan lagi-lagi berakibat Eline leluasa menyerang dan menyerang hingga menang. Kalah 1-2, Laysa harus puas hanya akan bertarung untuk memperebutkan posisi ketiga.

Juara dunia KU 14 ini diraih Eline Roebers dari Belanda yang menaklukkan WFM Gaal Zsoka (2077) dari Hungaria dengan skor 1,5-0,5.

Sebenarnya, Indonesia menurunkan 8 pecatur dalam ajang ini, tapi hanya dua pecatur yang mampu lolos hingga babak final.

Selain Laysa, andalan InSDonesia luannnya, Samantha Edithso di KU 12 Tahun yang juga lolos kualifikasi Asia, juga sebagai juaranya dengan sama meyakinkan juga merebut angka sempurna 7 poin dari tujuh babak.

Sayangnya pada babak perdelapan-final dunia, Samantha (rating 1792) yang berhadapan lawan Sreekumar Anupam M (1798) harus takluk 0,5-1,5 dari pecatur India tersebut dan tersingkir.