Oleh : Khanifatul Mukaromah
Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang

Di tengah pandemi virus corona, perjalanan sektor pariwisata di Kabupaten Banyuwangi mengalami kelumpuhan ,terkait dengan hal tersebut Kabupaten Banyuwangi yang menitikberatkan pada sektor pariwisata, baik wisata alam dan wisata budaya juga turut berdampak dari wabah Covid-19. Perkembangan pariwisata di Kabupaten Banyuwangi yang pesat selalu diiringi dengan promosi wisata yang berbasis event tahunan yang sering dikenal dengan B-Fest ( Banyuwangi Festival ). Keindahan alam dan kaya akan budaya menjadi daya tarik wisata andalan, hal tersebut sangat relevan diterapkan dalam pengembangan pariwisata secara berkelanjutan (Kanom, 2020)

Dampak adanya wabah virus ini tentunya akan menyebabkan konsep pendekatan ini mengalami perubahan yang cukup drastis, akibatnya akan menumbuhkan masalah baru bagi perekonomian , semula perekonomian menjadi baik karena pariwisata, kini kembali nol, tentunyaini dirasakan oleh masyarakat tentunya pelaku stakeholder pariwisata dan lainya. Pandemi ini juga memaksa negara melakukan pembatasan sosial serta larangan kunjungan wisatawan antardaerah maupun dari luar negeri untuk meminimalisir penularan Covid-19. Jumlah kunjungan wisatawan luar negeri turun 59,96 persen selama bulan Januari–Juni Tahun 2020 jika dibandingkan periode bulan yang sama pada Tahun 2019. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini mencatat kunjungan wisatawan internasional ini hanya mencapai 3,09 juta kunjungan. Pandemi ini juga berdampak pada larangan mobilitas masyarakat seperti pembatasan perjalanan yang diterapkan oleh pemerintah di hampir semua negara, begitu juga terkait sektor penyediaan akomodasi dan penurunan kedatangan wisatawan.

Cobaan Pandemi Covid-19 ini akan menjadi masalah serius dalam sektor pariwisata Kabupaten Banyuwangi, khususnya pariwisata yang akan berdampak langsung pada sector ekonomi , lantas bagaimana kelanjutan dari sektor pariwisata yang menjadi andalan dari Kabupaten Banyuwangi di tengah Covid-19 yang saat ini berkontribusi besar bagi peningkatan ekonomi. Kebijakan pemulihan pasca adanya bencana di daerah pariwisata meliputi tahap rehabilitasi, rekonstruksi, dan recovery hingga build back better, yakni ketika industry pariwisata dapat berfungsi normal kembali, sehingga masyarakat bisa menjalankan fungsi-fungsi ekonominya dengan baik (Kurniasari, 2017).

Baca juga :  Lewat Pengampunan Pajak Menjaring Rasa Keadilan

ADAPTASI PARIWISATA ERA NEW NORMAL
Pembangunan pariwisata dipaksa untuk beradaptasi dengan pandemi Covid-19 yang diterjemahkan dalam bentuk new normal artinya segala aktivitas bidang pariwisata dengan tuntutan mempersiapkan diri melalui penguatan standar kebersihan, kesehatan, keamanan dankelestarian lingkungan , oleh karena itu prioritas utama dalam pembukaan berkala dalam pariwisata adalah kesehatan dan penerapan protokol kesehatan dan pembatasan jumlah kunjungan wisatawan, selain itu berbicara Covid-19 bukan hanya berbicara tentang kesehatan saja, melainkan permasalahan ekonomi, karena roda ekonomi di Kabupaten Banyuwangi sebagian besar digerakan dari sektor pariwisata.

Sebelumnya , dalam implementasi komunikasi dan promosi wisata Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menerapkan digitalisasi marketing, digital marketing yang diterapkan merupakan bentuk transaksi lewat platform non tunai atau uang elektronik, selain itu pengunjung juga dapat membeli tiket destinasi secara online melalui aplikasi dan menampilkan destinasi wisata yang sudah tersertifikasi Covid-19, pembelian tiket secara online untuk penyelenggaraan event yang mulai beralih dari pertunjukan langsung menjadi virtual maupun hybrid (online dan offline), hingga penyediaan angkutan pariwisata gratis yang bisa dipesan secara daring, melalui platform tersebut mempermudah wisatawan serta tetap membantu seluruh lapisan untuk tetap produktif dan taat protokol kesehatan.

Selain itu pembukaan berkala juga mulai diterapkan sebagai upaya pemulihan sector pariwisata yang sempat terhambat, mengingat status kasus Covid-19 di Kabupaten Banyuwangi berangsur angsur membaik dan memasuki PPKM Level 1, artinya resiko penularan rendah dan dapat dikendalikan, namun tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada, serta menjelang hari raya natal dan tahun baru saat ini , Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi (Disbudpar Kabupaten Banyuwangi) akan menyesuaikan kebijakan dan aturan pembukaan destinasi wisata saat libur Natal dan Tahun Baru atau Nataru 2022. Mengingat masih adanya potensi penyebaran Covid-19 , sehingga kebijakan yang diambil juga harus hati-hati, sehingga beberapa destinasi wisata tetap dibuka sampai pertengahan bulan Desember Tahun 2021 dengan tetap menjaga kewaspadaan dan melakukan pembatasan jumlah pengunjung atau wisatawan.

Baca juga :  Peningkatan Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online, Mencari Ruang Aman dalam Berinternet

Dalam hal ini Kabupaten Banyuwangi mulai mengimplementasikan aturan dari pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/382 tahun 2020 tentang protokol kesehatan bagi masyarakat di tempat dan fasilitas umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian Covid-19. Keseriusan Kabupaten banyuwangi dalam penegakan aturan kesehatan juga diiringi jaminan keamanan kesehatan pengunjung dengan sertifikasi protokol yang ditempel pada beberapa objek wisata, restoran, hotel dan homestay, artinya jika ada yang tidak menerapkan protokol kesehatan, sertifikasi tersebut akan dicabut dan tidakdiperbolehkan melanjutkan kegiatan pariwisata dan ekonomi.

Pandemi Covid-19 ini telah memaksa banyak pihak untuk berkolaborasi dan memberikan regulasi yang inovatif dengan tetap memperhatikan roda perekonomian dengan menertibkan taat protokol kesehatan , terlebih Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi yang besar dalam sector pariwisata , oleh karena itu solusi dan langkah yang dipilih Pemerintah tentu harus tepat untuk masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata, selain itu solusi digital marketing tersebut sebagai untuk metode pembelajaran baru bagi masyarakat mengenai teknologi dalam bertransaksi secara mudah.

RECOVERY PARIWISATA KABUPATEN BANYUWANGI

Pemulihan sektor pariwisata Kabupaten Banyuwangi tentunya juga akan memulihkan sektor ekonomi setelah terdampak Covid-19 . Beberapa strategi pemulihan pasca Covid-19 telah disiapkan dengan optimisme dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi seperti optimalisasi vaksinasi dan pembukaan berkala tempat-tempat pariwisata. Oleh karena itu seiring pemulihan pariwisata pasca pandemi , Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melakukan beragam simulasi untuk fokus mempersiapkan adaptasi kebiasaan baru dengan konsep wisata yang aman, bersih, sehat dan sesuai protokol kesehatan tentunya. Salah satu cara recovery pariwisata adalah kegiatan sertifikasi hotel dan restoran dimana informasinya tersedia dalam aplikasi Banyuwangi Tourism , melalui aplikasi ini , para wisatawan dapat melihat hotel dan restoran yang telah memiliki sertifikasi sesuai dengan protokol kesehatan , selain itu pemerintah juga harus mengawal screening pengunjung menggunakan aplikasi peduli lindungi untuk pengunjung maupun masyarakat lokal.

Baca juga :  Stop Mafia Impor Minyak Bermanuver untuk Tempatkan Orang Sebagai Dirut Pertamina

Upaya pemulihan sektor pariwisata di Kabupaten Banyuwangi juga didukung oleh Kementerian Pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai bentuk recovery sektor pariwisata daerah, sehingga lambat laun akan pulih dan mampu berkontribusi pada beberapa target dan tujuan. Kebijakan Recovery Pariwisata ini dinilai sangat ideal, dikarenakan mampu memberikan formulasi dan strategi pasca Covid-19, dimana pemerintah memberikan kemudahan kepada wisatawan untuk pemesanan tiket destinasi dan akomodasi, tentunya ini akan mengubah sebuah konsep kelemahan menjadi peluang, artinya wabah Covid-19 yang awalnya berdampak sangat besar dalam sektor pariwisata menjadi peluang untuk dimanfaatkan kembali sesuai protocol kesehatan dengan strategi inovatif melalui era digital saat ini . Namun kondisi ini juga perlu penanganan lebih lanjut oleh pemerintah daerah , dalam pengembangan industri pariwisata
seperti sosialisasi terhadap kebijakan terutama terkait pariwisata dengan menggandeng komunitas pengembangan pariwisata. Selain itu manajemen pariwisata juga perlu diperhatikan seperti pembenahan destinasi wisata dan fasilitas pendukung dalam destinasi wisata, sehingga ketika hal tersebut sudah dilakukan maka hasilnya pada tingkat kepuasan wisatawan.

Referensi

Kanom, N. R. (2020). Recovery Banyuwangi Pasca Covid-19 . Jurnal Manajemen , 4-6.

Kurniasari, N. (2017). Strategi Penanganan Krisis Kepariwisataan dalam Kebijakan badan nasional penanggulangan bencana . Mediator Jurnal Komunikasi, 177-189.