Tembus Pasar Global, Batik Ariri Cirebon Didominasi Buyer Jepang
Sekretaris Kemenkop dan UKM yang juga selaku Komisaris Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Agus Muharram didampingi Pimpinan PNM Cabang Cirebon Iman Sewaka mengunjungi sentra pembuatan Batik Warna Alami Ibu Ariri di Cirebon, Kamis (20/7/2017).

, Indotimes.co.id – Peminat batik yang berasal dari kalangan mancanegara makin tinggi. Terbukti dengan banyaknya pesanan ekspor ke maupun pembelian secara langsung Trusmi Cirebon yang menggunakan pewarna alami.

“Hampir 70 persen pembeli atau buyer kain batik dari mancanegara berasal dari Jepang. Ada juga orang Jepang yang membeli langsung datang ke rumah maupun yang pesan dengan motif klasik-modern atau motif keratonan,” kata perajin batik pewarna alami, Ibu Ariri dalam kunjungan Sekretaris Kementerian dan yang juga selaku Komisaris Utama PT Permodalan Nasional Madani (PMN) Agus Muharram bersama Pemimpin Cabang Cirebon Iman Sewaka ke Sentra Batik Trusmi Cirebon, Kamis (20/7/2017).

Selain pembeli mancanegara, menurut Ariri, kain batik pewarna alami tersebut sudah sangat diminati pembeli lokal yang berasal dari berbagai kota besar di Tanah Air.

“Kain batik menggunakan pewarna alami sangat diminati, dibandingkan batik dengan pewarna sintetis. Sayang sekali  kalau pewarna alami dicampur dengan sintesis,” ujar perempuan yang menekuni pembuatan batik secara turun temurun dari orang tuanya.

Keistimewaan kain batik pewarna alami Ariri lainnya yaitu memiliki motif beragam yang menarik perpaduan klasik dan modern maupun motif keratonan Cirebon. “Goresan motif batik juga sangat detail dan memiliki tingkat kesulitan karena nol canting, terlihat seperti  ada garis rambut,” ujarnya.

Baca juga :  Waspadai Penipuan Mengatasnamakan Koperasi 

Tak heran, jika kain batik berkualitas premium tersebut sepadan dengan harganya. Yakni kisaran Rp3 juta hingga Rp10 juta per lembar. Sedangkan satu stel kain batik panjang bisa mencapai Rp15 juta.

“Untuk satu stel kain panjang dengan ukuran motif nol canting, perlu 5 bulan untuk pengerjaannya. Mulai dari tahapan desain atau gambar, menembok, pewarnaan dan seterusnya dengan melibatkan 4-6 orang hingga seluruh tahapan selesai dan kain siap jual atau pakai,” kata Ibu Ariri.

Nasabah PNM-UlaMM ini mengaku terbantu dengan akses pembiayaan dari PNM yang diterimanya.

Pada kunjungan di Sentra Batik Trusmi cirebon, Sekretaris dan UKM Agus Muharram mengingatkan perlunya peningkatan manajemen pemasaran agar bisa lebih ekspansif.

“Kalau manajemen pemasaran  tidak ditingkatkan, nanti pelanggan makin terbatas. Harapannya, tidak hanya pembeli dari negara lain bisa terus bertambah,” ujar Agus Muharram.

Menurut Agus, demand kain batik pewarna alami masih cukup besar karena memiliki kekhasan, dimana desainnya berbeda-beda.

Untuk itu, ke depan perlu perbaikan manajemen usaha dan pemasaran agar mampu menghadapi persaingan pasar.

“Modal bisa ditambah tapi harus diperbaiki manajemennya sehingga nantinya lebih ekspansif lagi. Kita juga selalu mengadakan pelatihan yang dibutuhkan pelaku usaha seperti pelatihan manajemen usaha dan lainnya,” ujar Agus Muharram.

Baca juga :  LPDB-KUMKM Restrukturisasi 40 Koperasi Terdampak Covid-19

Selain itu, Agus juga mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas dan mendaftarkan hak cipta produknya.

“Dari Kementerian Koperasi dan UKM maupun dinas akan selalu memfasilitasi. Pasti kita bantu agar semua produk UKM memiliki hak cipta,” kata Agus Muharram.

Sementara itu, Pimpinan PNM Cabang Cirebon Iman Sewaka menjelaskan, cara tradisional dalam pembuatan batik seperti pewarna alami Ibu Ariri sangat menarik.

“Mereka bertahan dengan cara-cara yang baik. Dan terbukti mereka mampu bertahan meski diterpa krisis ekonomi seperti yang pernah kita dialami. Usaha kecil dan menengah punya kemampuan bertahan yang baik. Namun ke depan kita tetap terus mendorong agar mereka terus tumbuh besar dan maju lagi,” ujar Iman.

Upaya PNM untuk memajukan UKM tersebut, menurut Iman, dilakukan dengan program pembiayaan kepada nasabah  PNM-UlaMM atau mitra UlaMM di wilayah kerja Cabang Cirebon yang terdiri dari 10 unit.

“Sejak awal tahun ini kita telah melaksanakan program klaterisasi sektoral, yaitu klasterisasi dengan usaha sejenis. Misalnya, klasterisasi petani kolam jaring apung Waduk Dharma Kuningan dan klasterisasi peternak sapi. Kita juga menerapkan program klasterisasi teritorial atau klasterisasi bisnis dengan usaha beragam,” kata Iman.

Baca juga :  KSP Guna Prima Dana Akan Jadi Penyalur KUR

Di samping itu, Iman mengatakan, PNM juga melakukan promosi produk unggulan mita UlaMM yang dijual ke . “Tim Jetro Jepang yang berkunjung ke Cabang Cirebon untuk melihat langsung produk batik Ibu Ariri ini,” ujarnya.

Pihaknya juga memberikan kesempatan kepada pelaku UKM yang memiliki produk unggulan  untuk mengikuti kegiatan pameran lokal maupun bertaraf internasional. “Salah satunya, kita memberikan kesempatan Bapak Caskim selaku pengusaha tape ketan khas Kuningan untuk mengikuti study banding ke Bangkok, Thailand,” katanya.

Program lainnya, Iman menambahkan, petugas dan staf PNM di unit masing-masing juga membuat kelompok usaha warga desa. Pembiayaan PNM-UlaMM kepada kelompok usaha warga dengan pendampingan usaha secara langsung dengan melakukan pertemuan rutin setiap minggu.

Kegiatan tersebut dilakukan sangat menarik dan diikuti secara antusias oleh anggota kelompok usaha. Anggota kelompok usaha dapat menyisihkan hasil usaha dengan menabung dan mengangsur pinjaman dengan cara pembayaran kelompok mingguan yang ringan.

“Kita selalu melakukan pendekatan relationship dengan nasabah, mitra dan kelompok usaha sehingga dapat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan pelaku usaha mikro dan kecil dan membantu pengembangan usahanya  ke depan,” katanya.