Implementasi Konsep At-Tasamuh: Beribadah di Bulan Ramadan Tanpa Melupakan Berbuat Baik dengan Sesama Manusia

JAKARTA, Indotimes.co.id – Bulan Ramadan kembali hadir, membawa momen spiritual yang selalu ditunggu-tunggu seluruh umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia. Tak hanya memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, namun juga kesempatan untuk memperkuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Membahas tentang konsep keseimbangan Hablumminallah (hubungan dengan Allah) dan Hablumminannas (hubungan dengan sesama manusia), Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Masjid Istiqlal Jakarta, KH. Bukhori Sail Attahiri menjelaskan pentingnya dua hal ini dijalankan secara bersama tanpa meninggalkan salah satunya.

“Ada yang hanya mementingkan hubungan dirinya dengan Allah, artinya ibadahnya kelihatan rajin banget, tapi tidak peduli dengan tetangganya. Dia justru merasa dirinya itu lebih hebat dari tetangganya yang ibadahnya tidak kelihatan sepertinya.
Orang yang demikian bisa dipastikan salah dalam memahami esensi bulan Ramadan,” terang KH. Bukhori di Jakarta Rabu (13/3).

Menurutnya, seorang muslim yang menjalankan puasa tidak bisa mengesampingkan pentingnya berbuat baik pada sesama manusia, atau yang juga dikenal dengan istilah hablumminannas.
Berbuat baik terhadap sesama manusia juga berarti saling menghormati antara umat Islam yang berpuasa dengan mereka yang tidak menjalankannya.

KH. Bukhori juga mengatakan bahwa konsep toleransi sebenarnya juga diajarkan dalam Islam. Islam mengenalnya dengan istilah at-tasamuh. Mendalami konsep ini, manusia diajarkan untuk tidak semena-mena lalu melanggar hak dari mereka yang dianggap berbeda. 

“Karena kita ini hidup dalam suasana yang damai, berbeda kalau kita sedang dalam situasi perang ya, itu lain lagi kaidahnya. Hidupnya kita di negara Indonesia yang kondusif dan dinaungi oleh peraturan hukum yang berlaku, maka kita semuanya mengacu kepada regulasi Pemerintah serta nilai dan norma masyarakat yang ada,” jelas KH. Bukhori.

Agar rasa toleransi dapat dihayati oleh masing-masing individu, ia juga menyoroti pentingnya saling mengerti dan memahami. Dengan demikian, masyarakat Indonesia bisa tetap kondusif walaupun berbeda suku, golongan, hingga keyakinan. 

Menurutnya, semua elemen masyarakat harus saling mengingatkan apabila terjadi keresahan yang ditimbulkan pihak tertentu. Manakala ada satu oknum saja yang bikin onar, dampak buruknya bisa ikut dirasakan masyarakat yang lain. 

KH. Bukhori mencontohkan, dulu ada berita orang yang melakukan salat di tengah jalan, sehingga membuat lalu lintas di suatu tempat menjadi terganggu. 

“Ibadah salat itu memang kewajiban kita sebagai muslim dan itu bentuk penghambaan manusia kepada Allah. Tapi pelaksanaan salat di tengah jalan tentu tidak dibenarkan karena mengganggu lalu lintas. Dia hanya mengedepankan hubungan dirinya dengan Allah, tapi tidak memperhatikan hak-hak manusia lainnya untuk berlalu lintas. Oknum yang demikian bisa dikatakan ilmu agama dan pemahaman keislamannya masih rendah,” imbuh KH. Bukhori.

Dirinya pun berpesan pada umat Islam agar dapat menjadikan ibadah puasa di tahun ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Walaupun diharuskan menahan lapar dan haus, ibadah puasa tidak hanya menyoal perkara jasmani, namun juga sebagai sarana perbaikan aspek rohani.
 
Ia menambahkan bahwa menjalankan puasa berarti harus menghindari berprasangka atau bahkan mengatakan keburukan tentang orang lain (ghibah). Jika melakukannya, berarti puasanya tidak sempurna karena hanya memperhatikan aspek jasmani namun meninggalkan kerohaniannya, khususnya dalam menjaga lisan dari perkataan yang buruk.

“Andaikata kita makan atau minum ketika menjalankan ibadah puasa, maka puasanya batal. Ketika kita sanggup menahan untuk tidak makan atau minum hingga waktu berbuka tiba, namun kita masih menyibukkan diri kita dengan memperbincangkan kejelekan orang lain, maka sulit untuk mengatakan bahwa puasa kita ada nilai pahalanya,” tambah KH. Bukhori.

Ia menegaskan, jika dalam berpuasa masih menyakiti orang lain melalui perkataan atau perbuatan, maka sebenarnya yang demikian tidak menghayati puasanya. Orang yang sungguh-sungguh dalam ibadah puasa adalah mereka yang mencari ridha Allah SWT sekaligus menjaga kerukunan dengan sesama manusia.

Menurut KH. Bukhori, keberhasilan dalam menjalankan ibadah puasa akan menunjukkan kadar ketakwaan seseorang di hadapan Allah. Dalam ajaran Islam, orang yang bertakwa adalah orang-orang yang bisa memilih yang terbaik dan menghindari yang dilarang oleh Tuhannya. 

“Manusia yang bisa menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT adalah yang dapat dikatakan bertakwa. Memiliki ketakwaan berarti punya kesadaran dan berupaya melalui tindakan preventif, supaya ia tidak termasuk dalam jurang yang dilarang oleh Allah SWT,” pungkas KH. Bukhori.