Lantik Bamusi Tangerang, PDIP Perkuat Jaringan Ulama dan Santri

TANGERANG, Indotimes.co.id – Dewan Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) yang merupakan organisasi sayap keislaman Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melantik Pengurus Cabang Bamusi Kabupaten Tangerang.

Pengurus Cabang Bamusi Kabupaten Tangerang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari kader Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah serta memiliki beragam latar belakang profesi seperti guru, pengacara, wartawan dan pelaku usaha.

“Baitul Muslimin Indonesia didirikan oleh para tokoh NU dan Muhammadiyah pada 2007 dan direstui oleh Ibu Hj Megawati Soekarno Putri. Hingga kini sudah di hampir seluruh provinsi,” kata Ketua Bidang Keanggotaan & Organisasi DPP Bamusi, Irvansyah, S.IP, M.Si usai melantik Pengurus Cabang Bamusi Kab Tangerang & Orasi Kebangsaan di Hotel Yasmin Karawaci, Tangerang, Rabu sore (8/1/2017).

Acara pelantikan dihadiri Sekretaris Dewan Penasehat Pengurus Pusat Bamusi yang juga selaku Ketua Fraksi PDIP DPR RI Dr H Ahmad Basarah, Ketua Pengurus Daerah Bamusi Banten Deden M Fatih, Ketua DPC PDIP Kab Tangerang Topari, Sekretaris DPC PDIP Kab Tangerang Muhlis, ulama, tokoh masyarakat serta tokoh pemuda se-Kabupaten Tangerang.

Baca juga :  Turnamen Sepak bola Antar Wartawan Kembali Digelar di Solo

Pembentukan dan pelantikan Pengurus Cabang Bamusi Kabupaten Tangerang merupakan cabang pertama di Provinsi Banten yang dilantik. “Pada 2017 ini, kita akan lantik seluruh pengurus cabang Bamusi kabupaten/kota di Provinsi Banten,” ujar Irvansyah.

Pada susunan pengurus sebagian besar nama baru, baik dari kalangan ormas Islam NU dan Muhammadiyah dengan beragam latar belakang profesi.

Susunan Dewan Penasehat terdiri dari KH Mahrusillah, Ustad Jasmani Al Hadi, Ustad Khusairi Pohan, KH Hendri K Wahyudi LC, Ustad Carmin, Ustad Saiful Bahri dan Ustad Suhendi.

Sementara pengurus cabang diketuai Abdul Choir SH, Sekretaris Didik Rubiyanto Dimyati, Bendahara Muhkam Hudaya.

Jajaran pengurus dilengkapi 14 wakil ketua bidang, antara lain, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Aulia Azhar Mutaqin, Wakil Ketua bidang Keanggotaan dan Organisasi Zaenal Abidin, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi dan Pelatihan Rois Maliki dan Wakil Ketua bidang Humas dan Media Achmad Fadhilah.

Baca juga :  Tips Cantik, Bugar, dan Sehat di Era New Normal Pandemi Covid-19

Orasi Kebangsaan

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Dewan Penasihat Bamusi yang juga Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menyampaikan orasi kebangsaan bertema “Islam dan Pancasila”.

Pancasila merupakan sintesis antara Islam dan Nasionalisme. Ia ibarat sepasang rel kereta api yang harus selalu berdampingan dengan kokoh untuk mengantarkan penumpangnya sampai pada tujuannya.

“Salah satu dari rel kereta api itu patah maka akan berisiko jatuhnya kereta api dari atasnya. Resikonya bukan hanya penumpang kereta api itu tidak akan sampai tujuan tetapi penumpang-penumpang kereta api tersebut akan celaka,” ujar Basarah.

Dia menjelaskan, sejarah pembentukan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa tidak dapat dipisahkan dari gerakan kaum Islam dan kaum kebangsaan, baik pada konteks gerakan pemikiran maupun gerakan politik.

Pergerakan kaum kebangsaan yang dimulai dengan berdirinya Perkumpulan Boedi Oetomo tahun 1908 yang diikuti dengan berdirinya perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi gerakan lainnya seperti perkumpulan Muhammadiyah (1912), Nahdlatul Ulama (1926) dan Partai Nasional Indonesia/PNI (1927).

Baca juga :  PLN Sambung Listrik 10,3 Juta Va untuk Pertamina EP di Tengah Pandemi

Dimensi pergerakan kaum Islam dan kaum Kebangsaan tersebut kemudian terinternalisasi dalam gerakan pemikiran dan gerakan politik Soekarno.
Basarah melanjutkan, konstruksi pemikiran politik awal yang menggembleng Soekarno adalah HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan saat ia berusia remaja di Surabaya. Kemudian konstruksi pemikiran sosialisme dan kebangsaan ia dapatkan saat belajar di ITB Bandung.

“Dua dimensi pemikiran Islam dan kebangsaan itulah yang akhirnya oleh Soekarno dikonseptualisasikan menjadi Pancasila yang sekarang menjadi konsensus dasar bangsa Indonesia sebagai ideologi negara,” kata Basarah. (Mhd)