JAKARTA, Indotimes.co.id – Petenis Asia Timur menguasai semi final tunggal Sportama ATF Asian Tennis U-14/16 Jakarta. Tiongkok berhasil menempatkan tiga wakil, dua putra dan satu putri, sedangkan Hongkong meloloskan dua atlet, satu putra dan juga satu putri. Dua diantara wakil Asia Timur itu menyingkirkan andalan tuan rumah di perempat final, Kamis, 28 Maret 2024.

Penerima wild card tunggal putra, Rungu Tian dari Tiongkok kembali menang atas unggulan keempat, Komang Bagus Wahyu Purustama, 6-3 6-7(5) 6-3.

“Tian bermain baik di turnamen ATF (Federasi Tenis Asia) perdananya. Pekan lalu, ia pun lolos ke semi final. Hari ini, ia mengulangi capaiannya. Hanya saja, ia masih sering grogi sebelum bertanding. Hal wajar mengingat ia masih anak-anak. Banyak yang dipikirkan, seperti bungahnya melihat peluang juara. Hal ini sebenarnya penting sebagai pelajarannya dalam mempersiapkan pertandingan. Sebab, ia harus menang dan merasakan pertandingannya,” ujar Martin Toretta, pelatih Tian di Alamo Star Tennis Guangzhou.

Pada semi final, Rungu akan menghadapi andalan tuan rumah yang menjadi unggulan teratas, Ethan Jake Frans. Juara pekan pertama itu menaklukan unggulan kedelapan asal Korea Selatan, Taeseong Son, 7-5 6-2.

“Aku yakin besok akan menjadi pertarungan sulit. Ia bisa bermain tanpa beban. Selain itu, lawan yang tangguh bakal mengajarinya cara-cara untuk mengatasi situasi di lapangan dan mengukur kemampuannya. Sebab, bagaimana pun juga, mereka masih anak-anak. Ada begitu banyak waktu untuk berkembang,” tambah Martin di arena turnamen, The Sultan Hotel & Residence Jakarta.

Semi final lain akan mempertemukan dua wakil Asia Timur. Unggulan kelima asal Tiongkok, Yitian Lou meladeni unggulan kedua dari Hongkong, So Yat Long.

Pada perempat final, Yitian menundukkan wakil Singapura, Yao Hui Dylan Chan, 6-1 6-1. Sedangkan So Yat Long mengatasi wakil India, Aravind Agarwal, 6-1 6-0.

Sementara itu di perempat final tunggal putri, unggulan ketiga asal Hong Kong, Hiu Lam Ella Wong melewati atlet tuan rumah yang menempati unggulan keempat, Sofia Grace Santosa. Finalis tunggal putri seri pertama ini menang straight set, 6-2 6-0.

Pada semi final, Jumat (29/3), Ella Wong akan menantang unggulan pertama asal India, Vasundra Balajee, yang membalikkan keadaan dari juara pekan pertama serta unggulan ketujuh asal Indonesia, Noya Myeisha Nafeeza Rizaldi, 2-6 6-2 6-1.

Harapan terakhir Merah Putih, unggulan kedua, Johanna Nesya Rose Jaya akan meladeni wakil Negeri Tiongkok, Mengxi Sun di babak semi final.

“Semoga kali ini bisa menang. Dia (Mengxi) pemain yang pukulannya kenceng. Jadi aku akan ngebuka lapangan. Karena susah kan ya buat main cepat sambil berlari mengejar bola,” tutur Johanna, siswi SMP Negeri 1 Bendosari, Sukoharjo.

Di perempat final, Johanna mengatasi kompatriotnya, Getsa Zainine 6-0 7-5. Sedangkan Mengxi menepikan Kazakhstan, Yeva Kim, 6-1 6-0.

Visi Bermain Jadi Pembeda Atlet Indonesia dan Tiongkok
Martin menilai dominasi perwakilan Asia Timur, terutama Tiongkok, merupakan suatu hal yang wajar. Petenis-petenis Tiongkok, menurutnya, menunjukkan keunggulan fisik maupun teknik. Ini pun terlihat dari level junior hingga senior

“Tiongkok ingin memertahankan statusnya di papan atas tenis dunia. Jadi, dominasi ini tidak mengejutkanku sama sekali. Apalagi, di turnamen ITF ataupun ATF di Asia, sudah pasti petenis Tiongkok akan menyesakinya. Saat ini, ada terlalu banyak pemain Tiongkok yang baru memulai karirnya sebab mereka tidak bertanding selama pandemi. Dua sampai tiga tahun lalu, mereka hanya berlatih di dalam negeri,” ujar Martin.

“Satu atau dua tahun ke depan, aku yakin mereka akan meledak dan menggairahkan turnamen profesional level atas dunia,” tambah Martin.

Karantina mandiri benar-benar menyembunyikan petenis Tiongkok dari kacamata tenis dunia. Dugaannya itu pun sebenarnya telah terealisasi pada awal tahun ini. Zheng Qinwen, 21 tahun, menembus sepuluh besar tunggal putri dunia setelah menjejakkan kakinya untuk kali pertama di partai final Grand Slam, Australia Open.

“Menurutku, ada satu perbedaan mendasar antara pemain Indonesia dengan pemain Tiongkok. Semisalnya, lawan Tian hari ini (Komang) ialah petenis yang betul-betul bagus. Pukulannya pun kuat dan kencang. Namun, aku tidam melihat pola permainannya. Hal ini tentu kembali ke cara berlatihnya. Intensitas serta prioritas latihannya. Ketika bertanding, pemain tidak bisa sekadar menembak ataupun memanjangkan bola. Setiap pukulan semestinya menampakkan tujuan serta visi permainannya sebagai upaya memenangkan pertandingan,” tutur Martin, yang pernah menangani petenis Indonesia, Justin Barki.

Dengan kata lain, raket dan tangan hanyalah alat, tenis sebetulnya digerakkan oleh pikiran. Seseorang yang memiliki pukulan berkualitas dapat ditaklukan oleh pemain yang lebih cerdik dan pandai dalam membaca pertandingan.

“Selain itu mereka pun menurutku ogah-ogahan bermain rally. Sekalipun lapangan hardcourt di sini mempercepat laju bola, mereka pasti melalui momen itu. Meskipun pemain bisa menang cepat, mereka tetap bermain berjam-jam. Apalagi untuk juara, mereka perlu lima kemenangan, bukan cuma satu. Jadi ketika pemain-pemain itu bertemu lawan yang mengajak adu ketahanan, masalah seketika menghampiri,” ujarnya.

Tiongkok mengirim delapan petenis dalam dua pekan penyelenggatan turnamen resmi dalam kalender ATF ini.

Martin mengungkapkan bahwa jarak dan pengalamannya menjadi pertimbangan utama dalam mengajak petenis junior Negeri Tirai Bambu tersebut untuk memulai karir mereka di Indonesia.

“Saya mengenal baik pelatih Sportama (Paul Sindunata). Dia salah satu pelatih top yang saya kenal. Turnamen ini juga diselenggarakan dengan baik. Ada lapangan latihan, ada sarana yang menunjang kebugaran lain pula,” ujarnya.

“Cukup menempuh lima jam penerbangan, kami bisa mengajari para petenis junior tentang tata cara tur. Kedisiplinan dalam menjalani rutinitasnya, kesiapan mental dan fisik di dalam maupun di luar lapangan. Apalagi, kebanyakan dari mereka, bukan hanya Tian, pertama kali melakoni tur ke luar negeri seperti ini,” pungkas Martin.

Gelaran ini merupakan penyelenggaraan ajang ATF keempat bagi Sportama Tennis Institute. Hal ini merupakan konsistensi klub yang berdomisili di Ibu Kota ini dalam membina tenis di Indonesia.

Salah satu buah yang negara ini petik ialah medali perunggu ganda putri Asian Games Hangzhou 2023. Raihan atlet binaan mereka, Janice Tjen, yang berpasangan petenis terbaik Indonesia, Aldila Sutjiadi.