JAKARTA, Indotimes.co.id – PSSI diminta untuk membenahi kualitas perwasitan, kalau ingin kompetisi sepakbola di Indonesia nai kelas ke level yang lebih baik dari saat ini.

Kondisi saat ini, dimana
banyaknya wasit yang tidak lolos seleksi untuk memimpin Liga 1 2023/2024 menjadi pekerjaan rumah besar bagi PSSI. Mereka dituntut untuk melakukan peningkatan kualitas.

Hal itu tersebut disampaikan pendiri Football Institute, Budi Setiawan kepada mefya di Jakarta, Minggu (25/6).

Berdasarkan riset yang dilakukan Football Institute, dimana dari riset data dan trend penugasan wasit Liga 1 dan Liga 2 di musim 2020 hingga 2022 lalu kaitannya dengan hasil seleksi wasit 2023. Dari situ terlihat, 58 persen wasit dengan penugasan tertinggi di Liga 1 2022 justru tidak lolos untuk musim depan.

Kondisi ini, ungkap Budi, artinya pada musim kompetisi 2022 dipimpin oleh wasit yang tidak kompeten dengan fakta angka-angka diatas. Hanya 13 persen wasit lolos seleksi liga 2, 37 persen degradasi ke liga 3 dan 50 persen tidak lolos, kemudian Liga 2 selama ini dipimpin oleh wasit yang tidak memenuhi kualifikasi sesuai angka-angka di atas.

Budi juga menjelaskan, persoalan kualitas wasit di Indonesia ini selalu saja menjadi masalah. Tiap musim kompetisi sepakbola berjalan, ada saja kontroversi yang terjadi di atas lapangan.

Budi menambahkan, tujuan dari hasil riset yang dirilis ke publik ini tujuannya untuk melihat kualitas kepemimpinan wasit seperti apa. Riset ini mengambil sampling 719 pertandingan Liga 1 mulai dari musim 2020 hingga 2022/2023, dan juga Piala Menpora serta Piala Presiden.

“Metodologi riset dengan sampling yang betul-betul akurat dari total 719 pertandingan Liga 1, mulai dari kompetisi musim 2020 hingga 2022, serta pelaksanaan turnamen Piala Menpora, Piala Presiden yang kita uji, bagaimana tren penugasan wasit di Indonesia, sehingga salah satunya data ini menyajikan siapa yang paling sering bertugas dan siapa yang jarang bertugas,” ucap Budi.

Pada kesempatan itu, Budi menjelaskan dari data ini pula didapati ada 14 wasit yang dalam tiga tahun terakhir mendominasi penugasan memimpin pertandingan. Yang tertinggi adalah Thoriq M. Alkatiri dengan total 34 pertandingan. Rinciannya 19 kali pada 2020 hingga 2022 dan 15 kali pada musim 2022/2023.

Di sisi lain ada wasit yang cuma sekali mendapat penugasan dalam tiga tahun terakhir. Mereka adalah Agus Walyono, Ikhsan Prasetya Jati dan Zetman Pangaribuan.

“Data ini menunjukkan distribusi pertandingan yang tidak merata terhadap wasit Liga 1, disamping adanya wasit-wasit yang promosi di tengah jalan mada musim 2020-2022, dimana mereka pada satu musim memimpin pertandingan hanya satu hingga tiga kali, sehingga menurut kami ini tidak lazim,” ujar Budi.

Dusamping itu, didapatkan pula beberapa klub yang kerap dipimpin pertandingannya dengan wasit sama. Dia mencontohkan Arema FC yang dipimpin wasit Ginanjar Rahman Latief sebanyak delapan kali.

“Dari data ini terlihat ada wasit yang kerap memimpin laga tim tertentu, seperti Thoriq M. Alkatiri. Dalam tiga tahun terakhir menjadi wasit tengah sebanyak 34 kali, Thoriq dominan memimpin di lima klub. Angka statistiknya, 60 persen selama tiga tahun menjadi wasit dalam laga lima tim tersebut, seperti Borneo FC Samarinda (11 kali), Persebaya Surabaya (9 kali), Bali United FC dan PSM Makassar (7 kali) dan Persija Jakarta (6 kali),” paparnya.

Kemudian ada Agus Fauzan Arifin. Dari 32 laga yang dipimpinnya, sebanyak 50 persen pertandingan melibatkan 5 tim yaitu Borneo FC dan Madura United (8 kali), Arema FC (6 kali), serta Persebaya dan Persib Bandung (5 kali).

Karenanya Budi berharap dengan dari data hasil riset yang mereka dapatkan, bisa dimanfaatkan oleh Satgas Anti Pengaturan Skor Sepakbola, yang dibentuk PSSI dan Mebes Polri untuk benar-benar membenahi sepakbola di Indonesia.

Karena dari data ini, tentunya bisa diungkapkan dugaan adanya keterlibatan pihak-pihak lain, yang bermain dalam pengaturan hasil pertandingan di kompetisi sepakbola di Indonesia.

Budi juga mengapresiasi upaya Ketua Umum PSSI, Erick Thohir yang melibatkan tim wasit Jepang, seperti Yoshimi Ogawa (Anggota Komite Wasit JFA) dan Toshiyuki Nagi (Instruktur Wasit JFA), untuk membenahi kinerja wasit di Indonesia.

Tentunya hal ini bukan hanya membantu Indonesia menciptakan kualitas wasit yang bagus secara penugasan, namun memberikan pendidikan kepada para wasit Indonesia, apa-apa saja yang dibutuhkan oleh wasit profesional untuk memimpin Liga Indonesia.