
JAKARTA, Indotimes.co.id – Pertandingan duel match kategori putra dan putri JAPFA Chess Festival 2026 memasuki babak kedua pada Rabu (2/9) di Gedung Serbaguna GBK, Jakarta. Setelah mampu menahan lawan masing-masing pada babak pertama,Selasa (1/9), dua pecatur Indonesia, WIM Laysa Latifah dan IM Satria Duta Cahaya, harus mengakui keunggulan lawan mereka pada pertandingan kedua.
Laysa yang memegang buah hitam menyerah kepada WGM Xeniya Balabayeva dari Kazakhstan pada langkah ke-52, sedangkan Satria Duta harus mengakui keunggulan pecatur muda Vietnam, IM Đầu Khương Duy, pada langkah ke-40.
Pada babak pertama sehari sebelumnya, Laysa Latifah berhasil memainkan pertandingan yang solid ketika menghadapi Xeniya Balabayeva. Pecatur putri Indonesia itu mampu memaksakan hasil remis melawan WGM asal Kazakhstan tersebut.
Hasil serupa juga diraih Satria Duta yang menahan remis pecatur muda Vietnam, Khương Duy. Dua hasil imbang itu menjadi modal penting bagi kedua pecatur Indonesia sebelum memasuki babak kedua yang kembali mempertemukan mereka dengan lawan yang sama.
Namun, memasuki pertandingan babak kedua, kualitas dan pengalaman internasional kedua lawan membuat pertandingan berjalan lebih sulit . Laysa akhirnya menyerah pada langkah ke-52 setelah berusaha mempertahankan posisinya menghadapi Balabayeva.
Hal serupa dialami Satria Duta, yang menyerah pada langkah ke-40 dari Khương Duy. Dengan hasil tersebut, kedua pecatur Indonesia harus bekerja lebih keras untuk menjaga peluang mereka dalam duel match yang masih berlangsung di JAPFA Chess Festival 2026. Dari sisi peringkat Elo, pertarungan Satria Duta melawan Khương Duy memang menjadi ujian berat.
Dari hasil dua babak Duel Meet yang menyediakan hadiah total 5.000 dolar AS ini, baik Satria Duta maupun Laysa baru mengemas 0,5 victory point (VP).Sebaliknya Khoung Duy Dau dan Xeniya Balabayeva telah mengumpulkan 1,5 VP.
Duta mengakui kekalahannya pada babak kedua tidak lepas dari tekanan waktu dan kurangnya kewaspadaan di momen kritis. Lawan yang dihadapi dinilainya memiliki gaya permainan menyerang yang sangat tajam serta unggul dari segi peringkat FIDE. Meski demikian, Duta menegaskan komitmennya untuk segera bangkit dan membenahi strategi pada sisa babak yang ada.
“Babak ini harusnya saya posisinya tidak kalah lah, tapi saya mungkin kena karena waktu terdesak dan banyak hal lain, jadinya lama-lama terus kalah. Targetnya ya pasti menang duel match-nya. Di sisa babak mungkin lebih nyerang sih biar coba cari poin berikutnya. Tapi kalau enggak yang klasik enggak bisa menang, ya minimal remis dulu,” ujar Satria Duta usai laga.
Satria Duta merupakan International Master (IM) Indonesia yang berada di kisaran Elo 2.400 dan tercatat sebagai salah satu pecatur muda papan atas Indonesia. Data peringkat 2026 menempatkannya sekitar Elo 2.412, sementara Khương Duy pada Agustus 2026 sudah mencapai sekitar 2.526.
Selisih lebih dari 100 poin tersebut menunjukkan mengapa duel ini menjadi tantangan serius bagi Satria, meski hasil remis pada babak pertama membuktikan bahwa perbedaan rating bukan jaminan kemenangan. Khương Duy sendiri merupakan salah satu talenta paling menjanjikan dari Vietnam. Lahir pada 2011, ia meraih gelar International Master pada usia sangat muda dan pernah menjadi juara dunia kelompok usia U12 pada 2023.
Sementara itu, Xeniya Balabayeva juga bukan lawan sembarangan bagi Laysa Latifah. Pecatur Kazakhstan kelahiran 26 Desember 2005 tersebut menyandang gelar Woman Grandmaster (WGM) dan memiliki rekam jejak kuat di level internasional. Pada 2025,
Baca Juga: BRI Super League 2026/2027 Resmi Diluncurkan
Balabayeva menjadi juara dunia junior catur cepat putri di Lima setelah mengumpulkan 7 poin dari sembilan ronde. Sebelumnya, pada 2023, ia juga menjadi juara dunia junior catur kilat putri. Di Kejuaraan Catur Putri Asia 2025, Balabayeva bahkan finis di posisi ketiga dengan 7 poin dari sembilan ronde.
Babak ketiga Duel Meet yang menyediakan hadiah total 5.000 dolar AS, akan berlangsung Rabu (3/9) pagi. Duta dan Laysa akan memainkan buah putih.
Mengomentari hasil pertandingan kedua pecatur muda Indonesia tersebut, pengamat catur, Kristianus Liem mengungkapkan, Duta dan Laysa kualitasnya tertinggal jauh dari lawannya pada duel match JAPFA Chess Festival 2026 ini.
“Di babak pertama, Laysa yang memegang buah putih sempat unggul. Namun Dia tak bisa menuntaskan permainan dengan kemenangan dan harus puas dengan hasil imbang. Di babak kedua, Laysa makin tersudut menghadapi tekanan Xeniya yang memegang buah putih dan harus mengakui keunggulan lawannya,” ujar Kris.
Sementara Duta yang di babak pertama bermain imbang, di babak kedua juga kalah imbas pengorbanan kuda dari lawannya, Khoung Duy Dou.
“Kalau liat dari rating dan gelar, cukup jelas kedua pemain kita dalam posisi underdog. Di catur standar, akan jelas keliatan kalau ada perbedaan kelas, nggak bisa lari. Apalagi mainnya lebih dari satu babak.” imbuh Kris.
Namun Kris mengakui kejelian GM Susanto Megaranto sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB Percasi (Kabid Binpres) dalam memilih lawan. “Susanto sangat jeli memilih lawan yang akan dihadapi pecatur Indonesia. Ini pelajaran berharga bagi Duta dan Laysa. Mereka harus menghadapi lawan tangguh,” lanjutnya.
“Santo (Susanto Megaranto) juga pintar membagi 10 babak pertandingan menjadi empat babak catur klasik dan enam babak catur kilat dan catur cepat. Duta dan Laysa yang kecil peluangnya meraih hasil maksimal di catur klasik, bisa mendulang poin dari catur cepat dan catur kilat.”
JAPFA Chess Festival ke-16 Tahun 2026 diikuti 523 pecatur dari 23 provinsi dan 4 negara memperebutkan total hadiah mencapai Rp298.900.000 serta satu partai Duel Match berhadiah USD 5.000. Mempertandingan 12 katagori termasuk duel match internasional.













