BADUNG, Indotimes.co.id – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sangat konsen terhadap pembinaan sepakbola usia dini di Tanah Air. Dengan pembinaan yang berkesinambungan diiringi kompetisi secara regular, diyakini cabang olahraga yang popular ini akan melahirkan para pemain muda berbakat.

“Tidak ada alasan untuk tidak membuat kompetisi usia dini. Sebenarnya harus dilakukan oleh seluruh cabang olahraga. Punya program real bahwa kompetisi usia dini itu hal yang wajib. Tidak boleh ditawar,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) seusai menyaksikan pertandingan final Bali International Football Championship (IFC) U-15, di Stadion Beji Mandala, Badung, Bali, Sabtu (8/12).

Menurut Imam, jika ada kompetisi usia dini, Indonesia tidak akan kekurangan stok atlet-atlet berbakat. Apalagi di dunia sepak bola, jumlah pemainnya bisa sampai ratusan ribu.

“Federasi makanya harus turun tangan. Tidak boleh sendiri. Jalan bareng, dengan pemerintah dan swasta juga. Ayo kita jalan sama-sama. Jangan ada ego sektoral,” tegas Imam.

Baca juga :  Tenis Indonesia Luar Biasa, Lampaui Target Emas SEA Games 2019

Tampilnya Bara FC dan Timnas Pelajar U-15 Indonesia di final turnamen Bali International Football Championship U-15, menurut menteri asal Bangkalan Madura Jawa Timur ini, menjadi bukti kekuatan sepak bola usia dini di Indonesia.

“Pertandingan yang keren. Kedua tim bermain lepas. Yang luar biasa, mereka sangat total bermain tanpa beban. Mereka sangat pantas untuk dinamakan sebagai tim yang mewakili Indonesia,” ujar Imam pula.

Imam pun bertekad untuk terus menggulirkan kompetisi usia dini. Turnamen Bali IFC tidak hanya diikuti peserta dalam negeri, juga libatkan tim-tim dari luar negeri. Artinya untuk pemain Indonesia, akan terbiasa menghadapi lawan yang secara teknik dan fisik berbeda.

“Semakin sering kita tanding dengan negara sahabat akan lebih baik. Kami akan dorong supaya sport tourism berjalan bareng. Badung punya potensi luar biasa, lapangannya keren banget,” imbuh Imam.

Baca juga :  Marciano Norman Siap Maju Jadi Ketum KONI Pusat

Imampun berharap desa lain di seluruh Indonesia perlu meniru Badung. Perlu mind set bagus dari setiap pemimpin daerah. Di sisi lain, kompetisi ini jadi hal baru bagi Indonesia, karena semakin sering selenggarakan kompetisi internasional akan semakin baik.

“Ke depannya harus lebih banyak lagi pesertanya. Setelah ini akan dievaluasi lagi, saya harap deputi dan bupati bisa evaluasi. Karena ini pertama kali. Jadi harus lebih baik ke depannya. Saya melihat seluruh peserta sangat senang,” tambah Imam.

Tapi, Imam belum tahu apakah akan kembali digelar di Badung, Bali atau daerah lain. “Sebaiknya memang konsisten di Badung, tapi bisa juga di daerah lain. Itu untuk membangun tekstur olahraga di seluruh wilayah tanah air. Karena dengan dana desa, memungkinkan untuk membuat lapangan seperti ini,” pungkas Imam.