JAKARTA, Indotimes co.id – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo mengharapkan para atlet sudah memahami atau melek literasi keuangan sejak dini ata saa meteka masih junior. Langkah ini sebagai upaya agar atlet dapat mengelola keuangan mereka, hingga dimasa tuanyanya terjamin kehidupannya.

Hal tersebut disampaikan Menpora saat menjadi keynote speaker pada Coaching Financial Planning untuk para atlet muda, di Wisma Kemenpora Senayan Jakarta Pusat, Senin (19/6) siang.

Dalam kesempatan tersebut, Menpora Dito menegaskan bahwa ide ini berawal dari himbauan Presiden RI Joko Widodo saat memberikan bonus kepada para atlet peraih medali di ajang SEA Games 2023 yang lalu.

Kala itu Presiden begitu wanti-wanti bahwa uang yang diterima dalam jumlah banyak, bila tidak dikelola dengan baik justru akan kerepotan di usia senjanya.

“Pertama saya ucapkan terima kasih kepada para nara sumber dan kepada seluruh atlet yang hadir. Ini berawal dari himbauan Bapak Presiden Jokowi saat para atlet menerima bonus, para peraih medali SEA Games dan ASEAN Para Games (nanti bila sudah diserahkan),” kata Menpora.

Perlu diakui bahwa kepedulian pemerintah terhadap prestasi atlet semakin terlihat, bahkan di era pemerintahan saat ini, bonus atlet merupakan yang terbesar.

“Jadi intinya saat ini di olahraga bonus apresiasi pemerintah kepada atlet dan pelatih untuk ajang internasional bisa kita klim sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah. Di era Pak Jokowi ini yang namanya bonus adalah yang tertinggi,” tegas Menpora.

Menpora menambahkan, sebenarnya pemerintah menginginkan atlet-atlet memiliki langkah awal, sehingga waktu muda saat kejayaannya dan ketika memasuki masa tuanya tetap bisa produktif dan hidup tidak dalam kesusahan.

Diakui bahwa pemerintah belum bisa mencukupi semua kebutuhan, namun setidaknya dengan besaran bonus uang yang ditunjang dengan literasi keuangan dapat mengantarkan para atlet dapat tetap menikmati kesuksesan hingga masa tuanya.

“Inilah salah satu yang bisa kami berikan, pemerintah tidak bisa mencukupi atlet dengan menjamin 100 persen, itu tidak bisa, kita memberikan pancingan dan umpannya, jadi peran kita ini mementoring dan memfasilitasi,” jelasnya pula.

“Kemarin banyak yang terima emas dibawah 25 tahun, ada yang dapat 500 juta-an sampai satu milyaran. Ini momentum kesempatan bagaimana memenej alokasi dari bonus itu ada yang ditabung, ada yang diinvestasikan, ada yang memang untuk kebutuhan kalian saat ini juga,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu Menpora juga betpesan agar hasil dari diskusi bersama para pakar dalam berbagi literasi keuangan ini dapat dibuat rangkumannya, sehingga bisa menjadi semacam buku saku para atlet bagaimana secara mandiri atau dengan bantuan pihak kompenten guna mengelola keuangan.

“Tolong nanti hasil diskusi hari ini dibuat rangkuman dan pointers-pointersnya dibuat menarik, jadi atlet-atlet yang tidak hadir di sini masih bisa membaca dan mendalami sendiri. Minimal kita sebagai pemerintah yang membina dan bertanggung jawab terhadap masa depan atlet ini bisa memberikan buku pegangan,” pesannya.

“Justru kita harus mulai memberikan pemahaman literasi keuangan ketika kalian belum masuk di atlet-atlet senior. Jadi di tahap awal kita ingin membuat atlet junior ini mulai melek arti literasi keuangan dan tanggung jawab finansial manajemen, agar di masa muda jaya, jaya, dan masa tua tetap bahagia,” tandasnya.

Kegiatan Coaching Financial Planning untuk para atlet junior ini dimoderatori oleh Felicia Putri seorang Investment Storyteller, dengan menghadirkan para nara sumber, Direktur Surat Utang Negara Kemenkeu RI Deni Ridwan, Principal Consultant & CEO ZAP Finance Prita Ghoze, dan Head of Investment Research Bibit &Stockbit Vivi Handoyo Lie.