JAKARTA, Indotimes.co.id –  Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menilai Olimpiade Tokyo 2020 banyak terjadi perubahan dan kejutan terkait dengan prestasi atlet dan rangking negara-negara di multi event olahraga tertinggi di dunia ini.

“Kita benar-benar memetik pelajaran yang sangat berharga bahwa di Olimpiade Tokyo ini banyak terjadi kejutan-kejutan. Banyak (peserta) yang diunggulkan di awal-awal tapi kemudian bahkan ada yang gugur di babak- babak penyisihan. Itulah olimpiade,” ujar Zainudin dalam konferensi pers secara virtual, Senin (9/8) sore.

Menurutnya, olahraga merupakan sesuatu yang dinamis dan tidak statis. Dengan demikian, memperkirakan ukuran dalam satu pertandingan olahraga sangat berbeda dengan membuat ukuran ketika membangun infrastruktur yang sudah bisa diketahui target harus selesai misalnya dalam satu tahun. Sementara olahraga tidak bisa karena dia bersifat dinamis dan terus berubah.

“Kalau olahraga ini dinamis sehingga perkiraan-perkiraan atau analisis-analisis yang kita tetapkan di awal itu bisa saja berubah dan berbeda dengan kenyataan,” ujarnya.

Zainudin mengungkapkan, para atlet dan pelatih nasional sudah melakukan upaya luar biasa untuk meraih prestasi Olimpiade Tokyo ini. Sementara dalam waktu bersamaan, sejumlah negara bahkan negara tetangga Indonesia yang dengan jumlah kontingan lebih besar dan lolos kualifikasi lebih besar tapi justru tidak memperoleh medali.

Baca juga :  KONI Pusat Siap Gantikan Peran Satlak Prima

“Nah kalau dilihat perolehan kita misalnya menggunakan ukuran sebagaimana yang kita terapkan di 2016 Olimpiade Rio de Janeiro kita nggak jelek-jelek amat. Bahkan perolehan medalinya kalau dari jumlah, kita lebih dari apa yang kita peroleh di Rio de Jeneiro,” ucapnya pula.

Namun, setelah mempersiapkan Desain Besar Olahraga Nasional, maka paradigma terkait olimpiade pun berubah, dimana pemerintah menempatkan olimpiade sebagai target utama dan perbaikan peringkat tiap event itu berlangsung.

“Walaupun sekarang belum mulai karena kami sedang menunggu ya menunggu payung hukum. Mudah-mudahan sebentar lagi akan terbit yakni Perpres artinya begitu ada Perpres berarti grand design ini udah mulai jalan,” tandasnya.

Untuk itu, pihaknya sudah mulai mencoba untuk menerapkan ukuran-ukuran prestasi di olimpiade berdasarkan grand design dan juga perubahan paradigma bahwa kita menjadikan olimpiade sebagai sasaran utama. “Kalau sebelum-sebelumnya kita sering mencampuradukkan antara prestasi di SEA Games, Asian Games dan Olimpiade. Sekarang dengan Grand Design Olahraga Nasional Olahraga atau Desain Besar Olahraga Nasional kita merubah paradigma itu,” jelas menteri asal Gotontalo itu.

Baca juga :  Suwardi Terlalu Tangguh Buat  Jerimia

Karena hal itu sesuatu yang baru, dan harus diambil sebagi tindaklanjut arahan presiden Joko Widodo untuk melakukan review total terhadap ekosistem pembinaaan olahraga nasional, maka mau tidak mau hal tersebut harus dilakukan.

“Ini pasti kita terkaget-kaget, suatu perubahan yang sangat ekstrem. Tetapi kalau kita ingin mengejar ketertinggalan dan prestasi olahraga kita. Maka jalan ini harus kita lalui, blue print, peta jalan ini harus kita lakukan dengan segala konsekuensinya,” ungkapnya.

Mengacu dari Olimoiade Tokyo 2020, dimana hitungan target yang dilakukan berdasarkan dengan olimpiade terakhir atau ditetapkan perbaikan target olimpiade Rio de Janeiro 2016, dirasa kurang tepat.

Pada olimpiade Tokyo, Indonesia ditargetkan menempati urutan 40 atau perbaikan dari olimpiade Rio yang menempati urutan 46. Namun hasil akhir Indonesia berada di urutan 55 dengan torehan lima medali yaitu satu easm, satu perak dan tiga perunggu. Secara mendali jumlah di Tokyo lebih Banyak ketimbangan Rio de Janeiro yang hanya raih tiga medali (1emas, dan 2 perak).

Baca juga :  Klemen Tinal Roller Sport Stadium Terbaik di Asia Tenggara

“Namun kenyataannya ada negara-negara yang saat di Brazil di Rio tidak mendapatkan medali bahkan peringkatnya jauh, sekarang mereka mendapatkan medali, ini yang akhirnya merubah posisi. Apakah kita melorot? Saya kira tidak karena kalau kita menggunakan ukuran medali kita malah bertambah,” katanya.

Kedepan   hal ini harus berubah, dengan menghitung ranking. Maka ini harus juga menyesuaikan. Ini sekaligus sebagai catatan buat NOC dan internal . Harus ada perhitungan dan prediski yang akurat dari capaian Olimpiade Tokyo 2020 ke Olimpiade berikutnya di Paris pada 2024.

“Akhirnya kita menyadari bahwa Desain Besar Olahraga Nasional (DBON ) harus segera jalan. Tidak ada pilihan lain buat kita. Karena kita akan menatap segera Olimpiade Paris 2024,” pungkasnya.