JAKARTA, Indotimes.co.id – Andalan tuan rumah berhasil melewati babak perempat final nomor tunggal Sportama Asian Tennis 14&U di Jakarta, Kamis (21/3).

Unggulan teratas, Johanna Nesya Rose Jaya dan unggulan keenam, Noya Myeisha Nafeeza di sektor putri. Demikian pula seeded pertama, Ethan Jake Frans dan Komang Bagus Wahyu, seeded keempat di kelompok putra akan melakoni duel sesama wakil Indonesia pada semifinal di lapangan tenis The Sultan Hotel and Residence Jakarta, Jumat (22/3).

Dengan demikian, tuan rumah pun telah memastikan satu tempat di partai final tunggal, baik putra maupun putri.

Laga semi final itu akan menjadi pertemuan ketiga antara Ethan dan Komang di turnamen resmi seri Federasi Tenis Asia (ATF).

Komang masih defisit dua kemenangan dari Ethan. Teranyar, takluk petenis yang belatih di Sukoharjo (Jawa Tengah) itu kalah pada perebutan posisi kelima ajang serupa di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia, awal tahun ini, 3-5, 2-4.

“Semoga kali ini aku bisa menang, kalah terus juga di level nasional. Aku kerap terburu-buru tiap melawannya. Pas dapet bola susah, aku malah nembak. Sebaliknya, Ethan bermain rapih, dia bisa mengembalikan bola-bola sulit. Jadi, besok aku bakal main rapih dan lebih sabar lagi,” tutur Komang, siswa SD Negeri 04 Mulur, Sukoharjo.

Pada perempat final putra, Komang Bagus dan Ethan Jake sama-sama mengandaskan duet ganda mereka. Komang Bagus, belia 12 tahun, mengalahkan kompatriotnya, unggulan kelima, Reavan Rio Suryana, 6-2, 6-0. Kemenangan ini pun mengimbangi rekor pertemuan mereka usai ia kalah pada akhir tahun lalu, 1-6, 6-1, 4-6.

“Untungnya, aku main bagus hari ini. Aku bisa ngelariin Reavan, maju-mundur, kanan-kiri. Poinku memang banyak datang dari baseline. Dia lagi cukup boros dan sering error pukulannya,” tutur Komang, yang mengidolai Roger Federer.

Sementara itu, Ethan Jake, juga 12 tahun, mengatasi unggulan keenam asal Singapura, Nicholas Min En Pak, 6-1, 6-3. Kemenangan straight set ini pun memberikan semifinal keduanya di ajang ATF.

Pada kesempatan pertamanya, ia takluk di tangan kompatriotnya, Roger Wirawan, di ajang serupa pada akhir tahun lalu, 4-6, 6-3, 4-6.

“Pertandingannya lumayan sulit, ya. En Pak bola-bolanya berat dan susah. Tapi, begitu aku dapet ritmeku, pukulanku mulai enak dan pede dalam pengembalian. Di tiga gim pertama, aku berusaha membaca permainannya serta mematangkan pukulan. Santai, aku main tanpa beban,” tutur Ethan, pemilik satu trofi ganda ATF.

“Tapi, aku biasanya tegang dulu malam sebelum bertanding. Aku enggak ngapa-ngapain sih soalnya pas pemanasan, biasanya, langsung reda. Paling aku berusaha nginget caraku melawan Komang,” tutur murid Life School Jakarta.

Ethan pun masih berkesempatan untuk memperbaiki catatan terbaiknya di nomor tunggal ATF. Di ajang serupa pada akhir tahun lalu, rangking 54 ATF ini berhasil meraih peringkat ketiga setelah menundukkan Reavan, 4-1, 4-0.

Duel Petenis Sukoharjo di Semi Final Tunggal Putri.

Noya Myeisha dan Johana Nesya pun akan menjalani pertarungan ketiga mereka. Dalam dua pertemuan sebelumnya, dua petenis Sukoharjo ini berbagi kemenangan. Noya Myeisha meraih lebih dahulu di perdelapan final ajang serupa pada akhir tahun lalu, 6-4, 6-2.

Namun, Johana Nesya hanya membutuhkan sepekan untuk membalaskan kekalahannya di penentuan posisi 5-8 di seri kedua ajang yang sama, 4-2, 5-4.

“Rasanya aneh tapi aku yakin bisa menang. Dia temenku dan kasihan juga kalau dia kalah. Tapi, kan kalau di lapangan dia jadi musuh, ya. Tahun lalu, aku juga sempat mengalahkannya di sini,” kata Noya, siswi SD Negeri 03 Mertan, Sukoharjo.

Pada perempat final, Noya, belia 12 tahun, menghadang laju unggulan ketiga asal Hong Kong, Hoi Hei Hui, 6-4, 6-1. Kemenangan pertama Noya di babak perempat final ini datang setelah tiga kali percobaan sepanjang tahun lalu.

“Pertandingan hari ini agak sulit. Mungkin karena lawanku sering protes, ya. Dia juga bisa ngasih bola panjang-pendek waktu rally. Untungnya, aku bisa menjaga servisku dan menyerang tiap ada bola tanggung depan net. Aku nyisipin bola spin di rally untuk membuatnya tidak nyaman,” ujar Noya, yang menyukai Iga Swiatek.

Sementara itu, Johanna, pemilik tiga trofi ganda ATF, meraih semifinal keduanya usai menangi duel sesama negeri atas Amelia Putri Tennizya Vesty 1-6, 6-0, 6-2. Belia 14 tahun ini mengicar final kedua untuk menjawab rasa penasaran akan gelar tunggal ATF. Di final pertamanya, ia menyerah dari Cantik Qur’ani, 7-5, 6-1.

“Hari ini lumayan susah. Kalah sama diri sendiri. Kayaknya gara-gara jadi seeded satu. Rada bikin deg-degan. Pas set pertama, aku kayak nyerah duluan, enggak main ngotot,” tutur Johanna, siswi SMP Negeri 1 Bendosari, Sukoharjo.

“Untungnya, aku meyakinkan diriku lagi. Banyak main variasi. Sering ngasih chop dan slice dan enggak gampang mati,” pungkasnya.

Turnamen ATF kali ini merupakan perhelatan keempat Sportama Tennis Institute. Sejak 2008, Sportama telah membina tenis di Indonesia dan mengorbitkan beberapa petenis nasional. Salah satunya ialah Janice Tjen, yang menyumbangkan medali perunggu ganda putri Asian Games Hangzhou 2023.