Pemikiran dan Masukan Legenda Timnas Dibutuhkan bagi Kemajuan Sepakbola Indonesia

JAKARTA, Indotimes.co.id – Owner Pancoran Soccer Field (PSF), Gede Widiade mengapresiasi silaturahmi sejumlah legenda Timnas Indonesia saat menjalani laga persahabatan yang bertajuk ‘We Are Football Family’ di Pancoran Soccer Field (PSF), Jakarta Selatan, Senin (6/2). Bahkan, Gede menyebut kegiatan ini perlu dilestarikan dan diwadahi, sehingga mampu memberikan nilai positif bagi kemajuan sepakbola Indonesia.

“Karena prestasi dan keringat mereka mungkin tidak bisa dihargai dengan uang. Minimal dengan berkumpul dan bersilaturahmi seperti ini, saran dan nasihat atas pengalaman mereka di lapangan bisa dibagikan,” ujar Gede Widiade.

Menurut seharusnya para legenda timnas, yang telah berdarah-darah membela ‘Merah Putih’ ini pada masa dahulu harus memiliki wadah, yang sumbangsih maupun pemikirannya sangat diperlukan bagi kemajuan sepakbola nasional,

Gede mencontohkan, sebagai mantan pemain nasional yang pernah membela Merah Putih di era mulai 70an, seperti Anjas Asmara, pemikirannya sangat diperlukan. “Kalau mereka dibuatkan semacam organisasi dan mau memberikan sumbangsih pemikirannya soal sepak bola, tentunya sangat bagus,” ujar Widiade, yang didampingi inisiator ‘We Are Football Family’, Erwiyantoro.

Anjas Asmara merupakan salah satu legenda top Timnas Indonesia pada masanya. Pada saat Indonesia bertemu Uruguay dalam laga persahabatan tahun 1974 di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Anjas turut berkontribusi dengan menyumbangkan satu gol.

Kala itu Indonesia dan Uruguay bertanding dalam rangka hari ulang tahun PSSI, digelar dua kali. Pertama Indonesia menang 2-1, selanjutnya kalah 2-3.

Pada kesempatan itu Anjas Asmara dimintai untuk memberikan sumbangsih terkait persepak bolaan Tanah Air. Salah satunya, ia menceritakan masa lalu Timnas Indonesia yang dikenal sebagai Macan Asia. Lalu Anjas membandingkan dengan kondisi skuad Garuda saat ini yang mana level Asia Tenggara saja yang ngos-ngosan.

“Dulu pemain demi Merah Putih, mau berjuang mati-matian. Itu tidak ada uang. Kenapa dulu Indonesia disebut Macan Asia. Lalu sekarang, masuk Asia saja susah, tentu perlu dipertanyakan,” ungkap Anjas Asmara, dengan penampilan nyentriknya.

Kegiatan silaturahmi tersebut juga diselingi diskusi terkait isu-isu sepakbola Indonesia, mulai organisasi PSSI, pembinaan, naturalisasi, perwasitan, kepelatihan hingga match fixing. Kegiatan tersebut diadakan sekaligus untuk menjalin tali silaturahmi antar mantan pemain sekaligus keluarga sepak bola Indonesia.

Mantan timnas yang terlibat, antara lain Nur Alim, Rully Nere, Herry Kiswanto, Ferril Raymond Hattu , Junaidi Abdilah, Joko Malis, Ajat Sudrajat, Risdianto, Ronny Paslah, Anjas Asmara, serta para legenda timnas lainnya.

Sementara itu penyelenggara We Are Football Family’, Erwiyantoro mengatakan kehadiran puluhan mantan timnas PSSI atau legenda timnas ini berasal dari berbagai daerah, yang sengaja datang untuk bersilaturahmi dengan merumpuk kembali ditas lapangan hijau di PSF Pancoran Jakarta.

“Jumlahnya legenda timnas yang terdaftar 53 dari berbagai daerah. Sebagian mantan Timnas sudah berada di Jakarta. Kami sediakan tempat menginap di hotel bagi yang tinggal di luar Jakarta,” ujarnya.

Mereka hadir tidak hanya brsilaturahmi sambil merumput kembali di lapangan hijau, tetapi mereka juga diajak berdiskusi tentang sepakbola di tanha air, dan berbagai permasalahan yang terjadi saat ini. Soal organisasi sepakbola, soal pembinaan, soal kepelatihan, soal kompetisi, termasuk masa depan sepakbola Indonesia.