HANOI, Indotimes.co.id – Dua wasit tenis meja Indonesia yang bertugas di SEA Games 2021 Hanoi, Syamsudin dan Gufron mengaku prihatin dengan nasib tenis meja Indonesia yang terus dibelenggu dualisme kepengurusan yang belum berakhir, sehingga berimbas kepada Timnas Tenis Meja Indonesia yang tidak tampil pada pesta olahraga dua tahunan negara-negara -Asia Tenggara tahun 2019 Manila dan SEA Games 2021 Hanoi.

“Ngenes, bagaimanapun juga kami ikut prihatin dengan terjadinya dualisme kepengurusan tenis meja Indonesia yang sudah berlangsung 11 tahun tanpa ada kepastian kapan berakhir,” kata Syamsudin yang diamini Gufron saat ditemui di Bandara Kuala Lumpur dalam perjalanannya ke Vietnam untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Asosiasi Tenis Meja Asia Tenggara (SEATTA).

Seperti diketahui lebih dari satu dekade telah terjadi dualisme kepengurusan tenis meja Indonesia. Pusat Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PP PTMSI) pimpinan Oegroseno yang menjadi Federasi Tenis Meja Internasional (ITTF) dan Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) pimpinan Pieter Layardi yang diakui oleh KONI Pusat.

“Dualisme kepengurusan tersebut juga berdampak tidak dipertandingkannya tenis meja pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 ,” kata Syamsudin yang memimpikan tenis meja bisa berjaya lagi seperti di era Toni Meringgi, Anton Suseno dan Lingling Agustin.

Syamsudin dan Gufron yang mengantongi sertifikat Federasi Tenis Meja Internasional (ITTF) mengaku mendapat undangan dari SEATTA dan Vietnam SEA Games Organizing Committee (VIESGOC) dengan Pengurus Pusat Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PP PTMSI).

“Ya, kami mendapat tugas memimpin pertandingan SEA Games 2021 Vietnam atas undangan dari SEATTA dan VIESGOC. pertama kami memimpin di SEA Games. Sebelumnya tidak ada wasit Indonesia yang memimpin di SEA Games 2019 Manila,” kata Syamsudin, wasit asal tersebut.

“Selain wasit tenis meja tuan rumah Vietnam, setiap negara peserta mendapat jatah mengirimkan dua wasit yang bertugas di SEA Games 2021 Vietnam. Kami hanya menjalankan tugas,” timpal Gufron, wasit asal Yogyakarta itu.

Terkait kisruh yang terjadi di kepengurusan tenis meja lebih dari satu dekade tersebut, Sekjen Komite Olahraga Nasional (Sekjen KONI) Pusat, Ade Lukman dan anggota Tim Review perwakilan KONI Pusat Gugun Gumelar pun angkat bicara.

Keduanya menyebut jika Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PP PTMSI), Oegroseno dan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PP PTMSI), Pieter Layardi sama-sama mengedepankan ego, sehingga tidak memikirkan nasib atlet tenis meja Indonesia yang terkatung-katung.

“Ibaratkan dalam sebuah , atlet itu adalah aktor utama, sedangkan pengurus induk organisasi hanya sebagai pemeran pendamping. Harusnya, pimpinan PP PTMSI dan PB PTMSI itu mengedepankan kepentingan atlet dan bukan mempertahankan ego masing-masing,” kata Ade Lukman yang ditemui saat menyaksikan pertandingan cabor wushu SEA Games 2021 di Cau Giay Gymnasium, Hanoi, Vietnam, Jumat (13/5).

“Ya, pengurus induk organisasi harus mengedepankan kepentingan atlet. Dan, saya yang mengusulkan agar cabang olahraga tenis tidak mendapatkan rekomendasi Tim Review. Selain rekam jejak , alasan lain adaalah PP PTMSI dan PB PTMSI sama-sama mengusulkan nama-nama atlet hasil seleksi nasional dan tidak ada titik temu dari keduanya untuk mencari yang atlet terbaik,” timpal Gugun Gumelar.

“Saya juga siap berdiskusi dengan pak Oegroseno soal kebijakan Tim Review. Harusnya masalah dualisme kepengurusan ini tidak sampai berlarut-larut sampai 11 tahun jika keduanya mengedepankan kepentingan atlet,” tambah mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Baseball dan Sofbol Seluruh Indonesia (PB Perbasasi) itu.

“Ya, mari kita berbicara tentang olahraga dan saya juga siap berdiskusi,” timpal Ade Lukman yang lulus sebagai Executive Master in Sport Organization Management (Memos) itu.