Jakarta, Indotimes.co.id – Purnomo Yusgiantoro Center () mengadakan acara The Ensight dengan tema “Disrupsi Masif di Energi : Pembelajaran bagi Indonesia”. Narasumber acara ini adalah Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia, Andi Widjajanto; dan Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara (), Arcandra Tahar; dengan moderator Budi Prayogo Sunariyanto (Peneliti PYC).

Acara ini dibuka oleh Ketua Umum PYC, Filda C. Yusgiantoro. Pada sambutannya, Filda menyampaikan bahwa belakangan ini telah terjadi peristiwa yang berdampak secara global, yaitu Pandemi Covid-19, krisis , Konflik Rusia-Ukraina, dan krisis energi. Hal ini merupakan disrupsi yang berpotensi memengaruhi perekonomian dan ketahanan energi. Lebih lanjut, Filda menyampaikan bahwa sebenarnya Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar, namun pemanfaatannya belum optimal. Hal ini pun dapat menjadi ancaman bagi perekonomian dan ketahanan energi Indonesia.

Narasumber pertama, Andi Widjajanto, menyampaikan bahwa ada keterkaitan erat yang mendorong fluktuasi dan instabilitas harga energi dengan disrupsi global seperti Perang Teluk, Keruntuhan Uni Soviet, dan juga Konflik Rusia-Ukraina pada saat ini.

“Tidak ada satu aktor di dunia yang dapat mengontrol stabilitas harga energi global. Hal ini terkait dengan dinamika pasar bebas dan dinamika geopolitik global,” ujar Andi di Jakarta, Sabtu (23/4/2022).

Perihal EBT, Andi mengatakan bahwa transisi energi ini masih menjadi PR panjang bagi Indonesia. Oleh karena itu, mix energy menjadi satu konsep yang dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan energi fosil dan mengembangkan EBT. Lebih lanjut, Andi mengungkapkan bahwa Kerangka Kerja Ketahanan Energi Terbarukan sedang dikembangkan oleh Lemhannas untuk membantu pemerintah dalam transisi energi.

Narasumber kedua, Arcandra Tahar, menyampaikan bahwa disrupsi terdiri atas 3 masa, yaitu the old (masa teknologi hampir mendekati akhir hidup), the now (masa inisiatif yang sukses dilakukan dan digunakan dalam kehidupan) dan masa the new yang juga disebut disruption.

Arcandra menyampaikan bahwa Indonesia harus memiliki strategi tersendiri dalam mewujudkan Net Zero Emission (NZE). Indonesia harus merumuskan strategi dengan melihat pembelajaran dari Eropa (yang menerapkan diversifikasi) dan Amerika Serikat (yang menerapkan dekarbonisasi). Lebih lanjut, Arcandra menyampaikan bahwa strategi ini juga harus memperhatikan faktor geografis Indonesia. Di akhir paparannya, Arcandra menyampaikan bahwa strategi ketahanan energi untuk Indonesia adalah domestic based supply (penggunaan suplai energi domestik).

Pendiri PYC, Purnomo Yusgiantoro, menyampaikan “Transisi energi masih in the making, yang masih terus dilakukan dari waktu ke waktu,” pada sesi penutup The Ensight.

Selain itu, tidak ada teori yang dapat menjelaskan harga ekonomi energi, hal ini termasuk uncertainty dalam VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Purnomo juga menyebutkan bahwa ketahanan energi sangat berkaitan dengan geopolitik dan stabilitas keamanan global.

Tentang Purnomo Yusgiantoro Center (PYC)

Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada penelitian independen dan mendalam, guna memberikan solusi kebijakan dan/atau rekomendasi di bidang penelitian energi dan sumber daya alam di tingkat lokal, nasional dan global.

PYC juga berfokus pada solusi akan penyelesaian masalah serta tantangan dan sumber daya alam yang memiliki dampak signifikan pada pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini, PYC memberikan solusi melalui berbagai proyek penelitian independen, seminar, lokakarya (workshop), konferensi, dan dengan institusi pemerintah dan/atau swasta dalam berbagai studi/penelitian terkait energi dan sumber daya alam.

Di bidang sosial, PYC mengadakan berbagai acara yang bertujuan untuk membantu masyarakat dalam bidang kesehatan, kesejahteraan, dan pendidikan. Selain itu, PYC juga terlibat aktif mempromosikan warisan kebudayaan lokal dan regional untuk melestarikan tradisional Indonesia