JAKARTA, Indotimes.co.id – Puluhan ribu buruh yang tergabung dalam 60 federasi dan konfederasi serikat pekerja nasional bakal menggelar unjuk rasa pada tanggal 28-30 November 2021mendatang.

Rencananya, unjuk rasa tersebut berlangsung di depan Istana Kepresidenan, Kementerian Ketenagakerjaan, dan DPR RI.

Sementara, pada tanggal 6-8 Desember rencananya para buruh akan menggelar aksi mogok kerja nasional atau stop produksi seluruh pabrik yang ada di 30 provinsi, 150 kabupaten/kota.

Perlu diketahui, kelompok buruh menuntut kepada pemerintah agar upah minimum tahun depan, harus naik 10 persen sesuai hasil survei kebutuhan hidup layak (KHL) yang mereka lakukan sebelumnya.

Sementara, pemerintah sendiri telah menetapkan upah minimum 2022, hanya naik 1,09 persen. Apalagi 21 November ini, para gubernur seluruh daerah akan mengumumkan penyesuaian upah minimum provinsi (UMP).

Sementara, 30 Novembernya, para wali kota dan bupati akan mengumumkan upah minimum kabupaten/kota (UMK).

Baca juga :  Penemuan Vaksin Covid Akan Percepat Pemulihan Ekonomi

Sebagai infromasi, Upah Minimum Provinsi (UMP) atau lebih dikenal dengan Upah Minimum Regional (UMR) di DKI Jakarta tahun 2021 adalah sebesar Rp 4.416.186.

Jika dinaikkan 10 persen, maka UMP DKI Jakarta 2022 menjadi Rp 4.857.804. Sebagai catatan, DKI Jakarta tidak menggunakan UMK, hanya menggunakan UMP saja.

Pada aksi May Day 2021, Polisi berhasil mengamankan puluhan orang yang disebut sebagai kelompok anarko di kawasan sekitar gedung Indonesia Labour Organization (ILO), Thamrin, Jakarta Pusat.

Aparat mengklaim, kaum anarko diduga ingin menyusup ke tengah-tengah massa aksi Hari Buruh Internasional dan akan membuat kerusuhan. “(Ada) 22 orang anak anarko diamankan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan kala itu.

Aparat kepolisian pun menduga, aksi buruh yang menyuarakan tentang kesejahteraan buruh tidak murni disuarakan oleh kaum buruh dimana dalam aksi anarkhis selalu di tunggangi oleh kelompok lain yang diantaranya adalah kelompok Anarko.

Baca juga :  Asproksi DPW Jateng Gelar Sosialisasi Kinerja dan Tupoksi Pengurus

“Menyikapi tuntutan buruh yang akan melakukan aksi mogok nasional pada tanggal 24 November 2021 perlu di waspadai adanya pihak lain yang memanfaatkan situasi tersebut dimana kelompok Anarko selalu eksis dalam aksi-aksi buruh,” tegas pihak kepolisian.

Bicara soal anarko, pada 1 Mei 2019 lalu, dalam demonstrasi peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) di Bandung, Jawa Barat, Jenderal Tito Karnavian, yang waktu itu masih menjabat Kapolri, juga mengungkap adanya kelompok anarko sindikalis yang terlibat dalam demonstrasi.

Personel anarko sindikalis, yang mengenakan pakaian serbahitam, disebut sebagai dalang kerusuhan disetiap aksi.
Menurut Tito, Anarko sindikalis adalah paham di mana para pekerja ingin bekerja dengan bebas, tidak terikat dengan aturan.

Salah satu ciri kelompok ini adalah coretan simbol ‘A’, yang jejaknya ditinggalkan dalam setiap kegiatan. Paham anarko sindikalis menyebar dari Eropa, Amerika Selatan, dan Asia.
Di Indonesia, paham itu masuk beberapa tahun lalu dan tumbuh di kota-kota besar, seperti Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Makassar.

Baca juga :  BKKBN Luncurkan Countainer Office Genre

Banyak varian anarko selain sindikalis, antara lain anarko individualis, anarko antifasis, anarko komunis, anarko feminis, dan masih banyak lagi.
Semuanya adalah cabang paham anarkisme. Istilah anarko sindikalis atau revolusioner sindikalis muncul saat paham itu diadopsi gerakan buruh.

Rudolf Roker dalam buku Anarchism and Anarcho Syndicalism (1949) mengatakan banyak kaum anarkis menghabiskan sebagian aktivitas mereka di pergerakan buruh, sehingga melahirkan gerakan anarkis sindikalis.