JAKARTA, Indotems.co.id Turnamen catur JAPFA Chess Festival 2026 sukses digelar selama enam hari mulai 1-6 September di Wisma Serbaguna, Senayan, Jakarta.  FM Fabian Glen Mariano dan IM Arif Abdul Hafiz  tampil sebagai juara katagori Open dan katagori Catur KIlat menjadi penutup suksesnya gelaran tersebut.

Dari semua itu, Kategori Open menyita banyak perhatian, mengingat sang juara harus ditentukan lewat babak ke-9 atau partai terakhir. Meski sebelumnya sempat muncul pemenangnya IM Gilbert Elroy akibat sistem eror, namun juaranya adalah FM Fabian Glen Mariano.

Fabian Glen menjadi yang terbaik setelah mengumpulkan 7,5 poin, sama seperti yang diperoleh Gilbert. Hanya saja, Fabian Glen menang solkof.

Pecatur asal Bali ini mengungkapkan kebahagiaannya sekaligus menceritakan drama teknis yang sempat terjadi sebelum pengumuman resmi. “Perasaan saya sangat bahagia ya, karena ini yang kedua kalinya saya berhasil menjuarai Japfa Chess Festival ini. Apalagi kemarin kan sempat ada miss, miss dari panitia ya. Tapi habis itu ada kesalahan diperbaiki, akhirnya saya yang juara,” ujar Fabian seusai penutupan JAPFA Chess Festival 202, Minggu (6/9).

Glen juga turut membagikan pengalamannya bersaing di JAPFA Chess Festival edisi kali ini. Menurutnya, tensi pertandingan tahun ini terasa jauh lebih menegangkan dibanding gelar juara yang pernah ia raih sebelumnya.

“Kalau yang tahun ini lebih lebih deg-degan ya. Karena yang sebelumnya saya juara itu poin delapan sendiri poinnya, enggak ada yang barengan. Tapi kali ini ada yang barengan, jadi agak deg-degan gitu nungguin. Kalau yang kali ini mungkin lebih ringan ya, karena kayak Grandmaster dan IM-IM lainnya pada enggak turun. Sedangkan yang sebelumnya itu pada semua hampir turun,” jelasnya.

Baca Juga: Seri ke-4 ITF World Tennis Tour M-15, Amman Mineral Men’s World Tennis Championship 2026 : Karan Singh Juara Tunggal Putra

Tak hanya mengunci gelar juara di kategori Open catur klasik, Glen juga menyelesaikan penampilannya di kategori Catur Kilat (Blitz Chess). Meski mengantongi total poin tinggi, ia harus puas berada di peringkat empat besar. “Catur kilat tadi sembilan babak saya poin delapan, draw dua kali. Tapi saya peringkat empat karena kalah solkoff oleh peringkat dua dan tiga,” tutupnya.

Pengaturan Sistem Tiebreak

Ketua Komite Wasit JAPFA Chess Festival 2026, Stefani Dian Cheri, memberikan klarifikasi resmi mengenai perubahan penentuan pemenang pada kategori catur standar. Ia mengonfirmasi adanya kekeliruan teknis dalam pengaturan aplikasi program pairing yang sempat menyebabkan urutan hasil akhir tidak sesuai dengan ketentuan regulasi terbaru.

“Kesalahan tersebut menyebabkan adanya perbedaan pada perhitungan dan urutan hasil akhir, khususnya pada pemain yang memiliki skor sama dan sempat mendapatkan partai dengan hasil akhir menang atau kalah walkout. Karena perbedaan di sistem tahun 2023 dan tahun 2026 berpengaruh kepada pemain yang bermain dengan lawan yang tidak ada. Karena hal tersebut, hasil yang ditampilkan sebelumnya belum mencerminkan perhitungan berdasarkan tiebreak yang seharusnya, tiebreak yang terbaru tahun 2026,” jelas Stefani.

Atas nama seluruh jajaran perangkat pertandingan, Stefani menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada para peserta dan publik penikmat catur. Ia menegaskan bahwa langkah koreksi yang diambil merupakan wujud komitmen perangkat pertandingan dalam menjaga fair play dan transparansi.

Sementara itu pada katagori catur kilat yang dipertandingan pada hari terakhir gelaran JAPFA Chess Festival 2026,  IM Arif Abdul Hafiz, tampil sebagai juara untuk Kategori Catur Kilat Arif mengumpulkan 8,5 angka kemenangan atau Victory Poin (VP) dari seembilang babak yang dipertandingkan pada hari terakhir turnamen catur paling bergengsi di Tanah Air ini.

Baca Juga: JAPFA Chess Festival 2026 :  Satria Duta dan Laysa Kalah Telak di Laga Duel Match

Kepastian itu diperoleh Arief setelah pada babak terakhir atau babak sembilan dia mampu mengalahkan CM Dziththauly Ramadhan LCC pada langkah ke-46. Tambahan 1 VP cukup mengantarkan Arief menjadi juara pada katagori Catur Kilat. Peringkat kedua catur kilat diraih FM Zacky Dhiaulhaq yang mengemas 8 VP disusul di posisi ketiga IM Yosep Taher juga dengan 8 VP, namun kalah dalam nilai solkof.

Partai Duel Match

Pecatur Vietnam IM Dau Khuong Duy sukses mengamankan gelar juara pada kategori duel match JAPFA Chess Festival 2026 usai mengalahkan wakil Indonesia, FM Satria Duta Cahaya. Meski sempat mendapat perlawanan sengit, Khuong Duy berhasil menyegel kemenangan lewat pertarungan ketat di nomor catur standar, catur cepat (rapid), dan catur kilat (blitz) selama 10 babak dengan 7 poin berbanding 3 poin.

Khuong Duy mengulas perjalanannya selama tanding yang diakuinya tidak berjalan mudah, terutama di sesi catur cepat. Sesi catur kilat menjadi momen kebangkitan bagi Khuong Duy setelah sempat kehilangan rasa percaya diri akibat hasil minor di kategori rapid.

Gaya bertanding yang sama-sama ofensif antara dirinya dan Satria Duta menuntut konsistensi tinggi. Menurut Khuong Duy, kunci keberhasilannya mengatasi tekanan lawan terletak pada kesederhanaan pola pikir dan keberanian mengeksekusi peluang.

“Saya berusaha untuk terus memberikan tekanan konstan kepada lawan. Saya mencoba memainkan langkah-langkah yang akurat, dan ketika lawan melakukan kesalahan kecil, saya mengambil kesempatan itu untuk mengendalikan permainan. Pola pikir saya cukup sederhana: cukup cari langkah terbaik dan paling aktif yang mungkin dilakukan. Saya selalu berusaha menekan untuk menang, dan karena pola pikir percaya diri itulah hasil saya cukup memuaskan,” ungkapnya.

Mengenai performa Satria Duta, Khuong Duy memberikan apresiasi sekaligus menyoroti kendala teknis yang kerap dialami sang lawan di momen-momen krusial. Pertemuan ini sendiri menjadi ajang pembalasan baginya setelah sebelumnya pernah kalah dari Duta di arena catur daring.

“Di atas papan (over the board), ya ini yang pertama kali. Namun saya pernah bermain melawannya dua kali di catur online, dan saya kalah 0-2 saat itu. Jadi ini pertemuan pertama kami di turnamen nyata. Dia bermain cukup baik, tapi menurut saya di beberapa babak krusial, manajemen waktunya kurang bagus. Dia sering kehabisan waktu. Meski dia sempat mendapatkan posisi yang lebih baik atau bahkan posisi menang, karena manajemen waktu yang kurang baik, dia tidak punya cukup waktu untuk menyelesaikannya,” jelas pecatur berusia muda tersebut.

Adapun di partai Duel Match putri, WGM Xeniya Balabayeva asal Kazakhstan berhasil keluar sebagai juara usai mengungguli wakil Indonesia, WFM Laysa Latifah dengan 8 poin berbanding 2 poin. Xeniya tampil dominan sekaligus memanfaatkan ajang ini untuk menguji sejumlah strategi baru di papan catur.

“Secara keseluruhan, turnamen ini sangat bagus bagi saya. Saya menang dengan hasil yang cukup solid. Saya mencoba memainkan beberapa strategi yang menarik bagi saya, melakukan lebih banyak eksperimen, dan sebagainya. Saya harap lawan saya juga menikmati pertandingan ini. Secara pribadi, ini adalah pengalaman yang bagus bagi saya,” ujar Xeniya.

Meski berhasil mengamankan poin solid, Xeniya menegaskan bahwa pertarungan melawan Laysa tidak didapat dengan mudah. Ia menilai ketenangannya dalam mengelola krisis waktu (time pressure) menjadi kunci utama yang membedakan permainannya dengan sang lawan.

“Laysa adalah pemain yang sangat kuat. Saya sudah pernah bertemu dengannya tahun ini di Kejuaraan Asia. Pertandingan tadi cukup berat, terutama di nomor catur klasik. Dia memberikan tekanan kepada saya, dan saya mencoba bertahan serta menekan balik. Saya tidak akan mengatakan ini sangat sulit, tetapi juga bukan pertandingan yang paling mudah. Dia memberikan beberapa masalah bagi saya di papan catur. Namun, saya rasa saya bermain lebih baik saat berada dalam tekanan waktu (time pressure) dibandingkan dia, dan itu sangat membantu saya untuk mendapatkan lebih banyak poin,” jelasnya.

Selain mengulas teknis pertandingan, pecatur yang kini berada di jajaran lima besar Kazakhstan tersebut memberikan apresiasi terhadap kualitas serta perkembangan pecatur putri Indonesia di kancah internasional.

“Saya pikir pecatur Indonesia bagus, terutama pecatur wanitanya. Mereka memiliki banyak pemain bagus sejak dulu. Saya rasa perkembangannya terus meningkat, dan sangat menyenangkan melihat turnamen seperti ini karena membantu para pemain untuk bertanding. Saya yakin generasi muda di sini akan tumbuh menjadi sangat kuat,” tuturnya.

Kunjungan keduanya ke Indonesia—setelah sebelumnya berlaga di Bali pada ajang Asian Youth Championship—meninggalkan kesan mendalam bagi Xeniya. Ia mengaku menikmati keramahan masyarakat serta kuliner lokal di Jakarta selama kompetisi berlangsung.

“Saya menikmati waktu saya di Indonesia. Semua orang sangat ramah dan selalu berusaha membantu. Saya menyukai pengalaman saya di sini, terutama di Jakarta. Saya sudah mencoba beberapa makanan lokal, saya tidak ingat namanya, tapi secara keseluruhan saya menikmati setiap makanan yang saya coba di sini. Saya tidak suka makanan yang sangat pedas, jadi saya mencoba mencari yang tingkat pedasnya rendah,” ungkap Xeniya.

Apresiasi PB Percasi

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi), Pandapotan Sinaga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Japfa selaku pihak sponsor serta mengungkapkan rasa bangganya atas kemunculan talenta-talenta muda di arena catur nasional.

Pandapotan menyoroti pentingnya kejuaraan ini sebagai ajang pemanasan dan pembinaan atlet menjelang kompetisi internasional tingkat tinggi, sekaligus menjadi wadah regenerasi pecatur tanah air.

“Dengan kegiatan ini, bisa menambah latihan yang dilakukan para pemain-pemain catur, terlebih para pecatur-pecatur muda yang ada di kita. Hari ini dari laporan Pak Henry Jamals bahwa juaranya saja sekarang umur 12 tahun,” ujar Pandapotan pada sambutan penutupan turnamen.

Ia berharap sinergi dengan dunia usaha dapat terus berlanjut dan memicu keterlibatan korporasi lain untuk turut serta menyelenggarakan kejuaraan serupa demi mencetak lebih banyak Grandmaster baru bagi Indonesia.

“Jadi sekali lagi, saya sangat bangga, apalagi ada pecatur muda yang juara hari ini, bisa menambah pundi-pundi atau pemain-pemain kita yang berbakat untuk bisa kita kembangkan, dan mudah-mudahan bisa menghasilkan grandmaster-grandmaster yang baru. Supaya ada menambah perbendaharaan grandmaster pecatur kita di Indonesia ini,” ungkapnya.

Pandapotan menegaskan komitmen PB Percasi untuk terus memperbanyak ruang kompetisi bagi para atlet serta menyampaikan terima kasih atas dedikasi berkelanjutan dari pihak JAPFA.