SUKOHARJO, Indotimes.co.id – Maula Saya (14 tahun) menyukai format baru turnamen resmi ITF (International Tennis Federation) J30 yang diterapkan DETEC International Junior Championship, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (25/5).
Jaminan tiga pertandingan tunggal pada babak grup menjadi alasan utama baginya. “Poin juga dapet asal menang sekali di dalam (grup). Ya, bakal lebih capek aja. Misal ke final (single dan double) bisa aja dapet main tiga kali sehari. Jadi, harus nyiapin energi lebih banyak aja. Apalagi Sukoharjo panasnya lagi nyelekit banget, nih” ujar unggulan kelima tunggal putri itu.
Maula pun bertekad untuk melangkah jauh. Siswi SMP Al-Azhar Serang ini, telah belajar dari pengalaman menjalani format baru di luar negeri, ITF J30 Singapura.
Turnamen besutan DETEC (Deddy Prasetyo Tennis Club) menjadi yang pertama kali menerapkan format baru ITF J30 di Indonesia. Maula pun memenangkan pertandingan pertamanya dalam grup E. Ia mengatasi Getsa Zainine, 6-2, 6-1.
“Serve saya lagi bagus. Lawan kesulitan dapetin bola-bola serve-nya. Backhand, dropshot, dan slice juga lebih unggul dan konsisten. Semangat terus juga,” ujar penggemar Novak Djokovic.
Selanjutnya, pertandingan kedua grup E mempertemukan Maula dengan wild card, Joycelin Mangunsong dan Getsa dengan petenis Tiongkok, Zhitao Hu, di Stadion Tenis Gelora Merdeka, Sukoharjo, Selasa (26/5).
Format Grup; Lebih Efisien, Lebih Adil
Lebih lanjut, format baru turnamen ITF J30 menghilangkan dua babak eliminasi awal; 32 besar dan 16 besar. Dua babak tersebut berubah menjadi babak grup. Setiap grup berisi empat petenis. Delapan grup dengan satu unggulan pada masing-masing grup.
Mereka saling bertemu di tiga hari pertama turnamen untuk memperebutkan satu tempat di babak perempat final.
Juara grup ditentukan berdasar jumlah kemenangan. Apabila terdapat dua petenis yang meraih kemenangan yang sama, penentunya adalah head to head antar kedua petenis.
Apabila terdapat tiga petenis yang meraih jumlah kemenangan yang sama, penentunya adalah persentase kemenangan game dan set–kemenangan tie break dihitung satu game dan satu set.
Dilansir dari situs resmi ITF, perubahan ini bertujuan untuk memperbanyak kuantitas pertandingan kompetitif internasional.
Dengan mempertandingkan format grup, para petenis junior dapat mencapai jumlah ideal (50-70 pertandingan setiap tahun) dengan jumlah turnamen yang lebih sedikit.
Efisiensi ini juga menguntungkan keluarga para petenis junior, terutama mereka yang berkewarganegaraan Indonesia.
Perubahan format tidak menaikkan biaya pendaftaran turnamen. Untuk kategori J30, biayanya tetap US$ 30. Di tengah naiknya kurs Dollar terhadap Rupiah, orang tua akan menghemat pengeluaran buat mendukung tumbuh kembang karir tenis buah hatinya.
Matt Byford, Direktur Eksekutif Tenis Junior, Veteran, dan Pantai ITF mengatakan bahwa akses yang adil serta pertandingan yang lebih banyak akan mendekatkan para petenis junior dengan cita-citanya.