JAKARTA, Indotimes.co.id – Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki 25.000 pesantren. Karena terkesan tertutup, banyak stigma negatif yang dilekatkan padanya, padahal sebenarnya apa yang kita tahu tentang institusi pendidikan tertua di Indonesia ini?

Beranjak dari hal itu, sebuah film tentang kehidupan pesantren dibuat. Film Pesantren adalah usaha untuk mencari tahu tentang hal itu, tentang bagaimana kehidupan para santri di pesantren melalui kisah dua santri dan guru muda di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, sebuah pesantren terbesar dengan 2000 santri di Cirebon, Jawa Barat. Pondok pesantren ini adalah pesantren tradisional pada umumnya, tetapi istimewa karena dipimpin oleh perempuan.

Shalahuddin Siregar—sutradara dan produser—mengatakan dia tidak hanya ingin membuat film yang hanya menjelaskan apa itu pesantren, tetapi ingin melihat lebih dalam hal yang jarang dibahas di luar, maka film ini fokus pada bagaimana Islam dari sudut pandang perempuan.

Film Pesantren diproduksi oleh Negeri Films, sementara distribusinya di bioskop dilakukan oleh Lola Amaria Productions, model kerjasama yang jarang dilakukan di Indonesia, meskipun ini praktik yang lazim di luar.

Lola Amaria mengatakan bahwa isu yang dibawa film Pesantren sangat penting untuk Indonesia saat ini, karena itulah dia mau mendistribusikan film ini di jaringan bioskop komersil.

Tidak hanya itu, Lola Amaria Production dengan Yayasan Bumi Karya Lestari juga membuat program Sinema Ramadan, yaitu program pemutaran film Pesantren di 10 pesantren di pulau Jawa selama bulan Ramadan tahun 2022.

Program ini dibuat sebelum rilis di bioskop, untuk melihat bagaimana pendapat para santri sebagai subjek di film ini. Program Sinema Ramadan berjalan sukses dengan dukungan dani Bank BNI, Telkom, dan Telkomsel. Produksi film Pesantren yang dimulai tahun 2015 ini sempat berhenti di tengah jalan karena kesulitan pendanaan.

Meskipun begitu, film ini akhirnya bisa selesai pada tahun 2019 dengan dukungan dari In-Docs, Steps International, Kedutaan Denmark di Jakarta, Talents Tokyo, serta dua stasiun TV internasional—NHK dan Al Jazeera Documentary Channel.

Film ini diputar pertama kali di International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) pada tahun 2019. IDFA adalah festival dokumenter paling bergengsi dan terbesar di dunia.

Film Pesantren terpilih dari sekitar 3000 film, ada pada program di Luminous, sebuah program yang menurut IDFA adalah “untuk film-film yang mampu menenggelamkan para penontonnya dalam pengalaman sinematik, yang digerakkan oleh tokoh, cerita, maupun pembuat film. Luminous hadir untuk memulihkan keindahan relasi, ekspresi dan rasa empati manusia dan membuat yang universal menjadi nyata lewat individu-individu dalam film-fim terpilih.”

Menurut juru program Luminous Sarah Dawson, “gaya observasional (sutradara) memberi kekuatan kepada anak-anak muda yang menjadi subyek film ini sehingga mereka mampu menceritakan kisah mereka sendiri. Kita bisa belajar banyak dari guru-guru maupun pelajar dalam film ini, apapun kepercayaan atau identitas kita. Buat saya sendiri, film ini membuat saya merasa lebih punya harapan tentang dunia.” ungkapnya.