Michal Ihsan Wicaksana

SUKOHARJO, Indotimes.co.id – Para petenis muda Indonesia merajai turnamen tenis Detec International Junior Championship J30 di Sukoharjo,Jawa Tengah.

Pada laga pamungkas yang berlangsung di Gelora Merdeka, Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (1/6), para petenis tuan rumah merebut tiga dari empat gelar yang dipertandingkan.

Di tunggal putra Michal Ihsan Wicaksana, meraih trofi tunggal ITF Junior perdana pada tahun ini, sekaligus trofi keempatnya di level pembuka. Pada partai final, petenis binaan Kentoeng Tennis Academy ini mengatasi rekannya,unggulan keempat, Akmal Junaini, 6-4, 6-1.

Advertisement

“Pertandingannya berlansung seru dan ketat. Akmal terus memberikan perlawanan, berapa pun skornya. Alhamdulillah, ketenangan dan konsistensi saya memberikan kemenangan pada final ini,” ujar Michal, belia 18 tahun yang meraih dua trofi ganda ITF berpasangan Akmal,di Jember dan Singapura.

Hanya saja, Akmal memang tidak dapat tampil sempurna pada partai puncak ini. Di tengah set kedua, kaki kirinya mengalami kram dan butuh pertolongan medis. Sebab itu, bagel mau tak mau dimakannya.

Baca Juga: Juara Nasional Honda Racing Indonesia, Avila Bahar-Aaron Lim (HMRT) Raih Hasil Sempurna di MTCC Malaysia

Bagaimana pun juga, keberhasilan ini menuntaskan dahaga Michal akan gelar tunggal ITF. Bukan waktu puasa yang sebentar, penggemar Tegar Abdi ini mesti mencari selama empat tahun sejak memulai karir.

Sayangnya, perolehan trofi Michal tidak bertambah pada seri ini. Duetnya bersama Raphael Rio Suryana kandas di semi final. Duo Sukoharjo ini mengakui duo Tiongkok, Luxuan Xie/Shao Zhang, 6-2, 5-7, 7-10. Duo Tiongkok inipun akhirnya menyerahkan trofi ganda ke duo Taiwan, Weibo Huang/Ting-Ho Yang, setelah di laga final, mereka takluk 4-6, 2-6.

Sementara itu, Mischka Sinclaire Goenadi menyapu bersih gelar di sektor putri. Ini adalah perkawinan gelar tunggal dan ganda ketiganya.

Pada final tunggal, atlet binaan Next Gen Tennis Academy Jakarta meraih trofi tunggal keempatnya setelah menyudahi petenis Tiongkok, Siyun Xiao, 6-4, 6-4.

Sedang diganda putri, Mischka yang
berpasangan dengan Shinar Zahra Shukayna Heriyadi, tampil sebagai juara setelah di final mengatasi duo gado-gado Indonesia-Tiongkok, Jeanne Lynn Hartono/Jihan Li, dua set langsung 6-1, 7-6(4).

“Ini pertama kali, kami tampil bersama. Seneng banget bisa langsung meraih gelar juara,” papar Shinar, selepas berkalung emas ITF perdananya pada tahun ini sekaligus emas ganda kelima di sepanjang karir.

Baca Juga: Buka Mandiri Kejurnas Antarklub U16 & U18 Tahun 2026, Nirmala Dewi Minta Peserta Jaga  Sportivitas

“Tapi, chemistry kami sudah ada dari lama kok,” timpal Mischka, “Kami temenan udah dari kecil. Dulu, kami sempat berlatih bersama di salah satu klub di Jakarta. Jadi, gampang aja buat kami main kompak.”

Sekalipun begitu, Mischka/Shinar sempat limbung pada set kedua. Keunggulan tiga game-nya terkikis perlahan-lahan. Setelah memberikan bagel pada set pertama, mereka terkejut ketika Joanne/Jihan menembak dengan lebih terarah.
Ketidaksigapan dalam bertahan pun memberikan set ini tie break.

Mischka, pemilik sepuluh trofi ganda ITF, memaparkan bahwa, “Kami juga kehilangan fokus di set ini. Pukulan mereka lebih jarang mati, masuk terus, skor kecilnya ketat terus. Nembaknya jadi ragu-ragu.”

Keragua-raguan itu memantik diskusi pada jeda jelang tie break. Mereka mengakui dan bertekad melampauinya. Kelembapan petang yang menggarami tubuh turut memotivasi mereka untuk menyudahi partai lebih dini. Di bawah awan mendung, mereka menemukan kembali secercah kepercayaan diri.

“Kami main dengan berani di tie break. Kami mulai menyerang. Kalo bisa nembak duluan, pasti kami ambil. Kami mikir poin per poin aja. Satu demi satu, eggak ngebebanin sama menang-kalah, itu belakangan,” tutur kedua petenis belia yang sama-sama mengidolai Aryna Sabalenka secara bersahut-sahutan.

Alhasil, cukup sekali match point. Winner, buah dari forehand menyilang ke sudut kiri lapang tak terjangkau lawan.

Kemenangan ini, sayangnya, tidak mengerek peringkat Mischka. Poinnya tidak dapat terhitung lagi. Di nomor ganda, setiap pemain junior hanya mendapat jatah lima penampilan terbaiknya. Lima penampilan terbaik siswa ACS Jakarta ini pun sudah bernilai juara di entry-level kejuaraan resmi internasional.

Menyadari hal tersebut, Mischka pun bertekad untuk mengayunkan raket di level yang lebih tinggi. Mengingat Indonesia belum menyelenggarakan turnamen di atas J60, pemain tim nasional akan mengepakkan sayapnya ke kawasan Asia Tenggara. Tentu saja, latihannya akan lebih giat dan lebih tekun lagi.

“Sejauh ini aku baru sekali (main di kelas atas). Pas itu main di level J200 Kuala Lumpur, Malaysia. Aku udah bagus bisa menembus babak kualifikasi meskipun mesti mengakui lawanku di first round. Lawanku (Kimiko Copper) betul-betul intens permainannya. Pas melihat pertandingan lain, pemain-pemain dengan peringkat tinggi, pukulannya juga jauh lebih kuat, bagus, dan rapih” pungkas Mischka, yang hanya mengikuti seri pertama gelaran yang konsisten diselenggarakan oleh klub DETEC ini.

Bukan, karena Mischka merasa melampaui level J30. Akan tetapi, sebagai student athlete, ada agenda sekolahnya yang tidak boleh ditinggalkan. Pencapaian akademik baginya sepenting prestasi di lapangan.

Hal ini pun membuka peluang lebar bagi keinginan Shinar. Belia 17 tahun bertekad meraih trofi tunggal ITF perdana. Apalagi, peringkatnya, ke-927 dunia, menempatkannya sebagai unggulan teratas seri kedua.

Advertisement